"Kalau unicorn sudah mulai keruk keuntungan bisa US$100 miliar, itu tidak akan pernah rupiah kuat. Jadi ketahanan sebenarnya rapuh," ucapnya, Rabu (7/8).
Didik menjelaskan investasi yang biasanya kembali ke pemodal di luar negeri berbentuk dividen. Ketika banyak dana yang mengalir ke luar negeri, nilai tukar rupiah berpotensi rontok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka itu, ia meminta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk menyeleksi investasi yang masuk ke dalam negeri. Didik menyarankan agar investasi yang masuk berorientasi ekspor, sehingga bisa memberikan dampak positif untuk neraca transaksi berjalan ke depannya.
"Yang sekarang ini investasinya eksploitasi pasar dalam negeri semua, maka perlu ditata dan perlu strategi," jelasnya.
"Pada saat mereka butuh permodalan kan mereka baru menggelontorkan dana untuk investasi. Nah, untuk dapat pinjaman dari dalam negeri persyaratannya susah makanya cari dari luar investornya," ujarnya.
Dengan mendapatkan pinjaman dari asing, maka ada efek ganda (multiplier effect) bagi industri di dalam negeri. Sebab, bertambahnya permodalan dari asing bisa membantu perusahaan melakukan ekspansi.
"Jadi yang skala rumahan bisa masuk ke industri menengah," pungkas Yuliot.
[Gambas:Video CNN] (aud/sfr)