Kadin Sebut Suntikan Dana Asing ke Unicorn Bikin Rupiah Rapuh

CNN Indonesia | Rabu, 07/08/2019 21:13 WIB
Kadin Sebut Suntikan Dana Asing ke Unicorn Bikin Rupiah Rapuh Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia Didik Junaidi Rachbini menilai suntikan dana asing ke perusahaan rintisan (startup) berstatus unicorn akan mengancam ketahanan rupiah dalam jangka panjang.

"Kalau unicorn sudah mulai keruk keuntungan bisa US$100 miliar, itu tidak akan pernah rupiah kuat. Jadi ketahanan sebenarnya rapuh," ucapnya, Rabu (7/8).

Didik menjelaskan investasi yang biasanya kembali ke pemodal di luar negeri berbentuk dividen. Ketika banyak dana yang mengalir ke luar negeri, nilai tukar rupiah berpotensi rontok.


Selain mengancam rupiah, menurut Didik, suntikan dana asing juga akan berdampak negatif pada defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Sebab, dana yang selama ini masuk ke Indonesia akan kembali ke negara pemodal jika perusahaan yang menjadi tempat investasi asing itu sudah untung. Menurut Didik, sekarang dampaknya memang masih positif karena unicorn belum memberikan keuntungan kepada investor atau pemegang saham.

"Sekarang kan investor asing masih tanam dulu, unicorn belum keluarkan royalti. Saya perkirakan 10 tahun lagi akan lebih parah (defisitnya), setelah unicorn-unicorn itu untung," ujarnya.

Maka itu, ia meminta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk menyeleksi investasi yang masuk ke dalam negeri. Didik menyarankan agar investasi yang masuk berorientasi ekspor, sehingga bisa memberikan dampak positif untuk neraca transaksi berjalan ke depannya.

"Yang sekarang ini investasinya eksploitasi pasar dalam negeri semua, maka perlu ditata dan perlu strategi," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM Yuliot mengatakan pelaku usaha startup masih membutuhkan permodalan dari asing karena aset yang dimiliki masih kecil. Terlebih, mereka juga kesulitan untuk meminjam dana ke perbankan karena suku bunga perbankan dinilai tinggi dan membebani perusahaan.

"Pada saat mereka butuh permodalan kan mereka baru menggelontorkan dana untuk investasi. Nah, untuk dapat pinjaman dari dalam negeri persyaratannya susah makanya cari dari luar investornya," ujarnya.

Dengan mendapatkan pinjaman dari asing, maka ada efek ganda (multiplier effect) bagi industri di dalam negeri. Sebab, bertambahnya permodalan dari asing bisa membantu perusahaan melakukan ekspansi.

"Jadi yang skala rumahan bisa masuk ke industri menengah," pungkas Yuliot.
[Gambas:Video CNN] (aud/sfr)