KTT G7 Diramal Tak Keluarkan Pernyataan soal Perang Dagang

CNN Indonesia | Selasa, 20/08/2019 18:33 WIB
KTT G7 Diramal Tak Keluarkan Pernyataan soal Perang Dagang Ilustrasi pertemuan G7. (REUTERS/Michael Kappeler)
Jakarta, CNN Indonesia -- KTT G7 yang digelar di Perancis pada akhir pekan ini diramalkan akan berakhir tanpa pernyataan bersama, termasuk untuk mengatasi ketegangan dagang yang sedang berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang terjadi setahun belakangan ini.

Ketiadaan pernyataan bersama tersebut disampaikan oleh seorang pejabat pemerintah Jepang yang tahu persis dengan pertemuan tersebut. Kalau kemungkinan tersebut terjadi, pertemuan besok akan menjadi forum KTT G7 pertama yang berakhir tanpa  pernyataan bersama dimulai perkumpulan pada 1975.

Kemungkinan tersebut juga menggarisbawahi keretakan pendapat antara negara G7 terkait kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.


"Sangat penting bagi semua orang untuk menciptakan pemahaman bersama melalui debat yang menyeluruh. Tetapi sulit untuk mengirim pesan ke seluruh dunia ketika sebuah komunike tidak akan dikeluarkan," kata pejabat itu seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/8).
Perang dagang berkecamuk antara AS dengan China sejak 2018 lalu dan sampai saat ini belum ada tanda ketegangan tersebut akan berakhir. Kedua belah pihak sebenarnya sudah berupaya untuk mengatasi konflik tersebut sejak Januari lalu.

Perundingan pada awalnya membuat kemajuan dan meningkatkan harapan bahwa damai dagang antara dua negara bisa tercapai dengan cepat.

Tetapi di tengah kemajuan pembicaraan tersebut, Presiden Trump tiba-tiba membatalkan pembicaraan. Pembatalan dilakukan karena ia menuduh China telah mengingkari komitmen yang dicapai dalam perundingan.

Diskusi dagang kemudian dilanjutkan ketika Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G20 di Tokyo pada Juni lalu. Tetapi, di tengah rencana kelanjutan perundingan tersebut, Trump tiba-tiba mengumumkan bahwa pada 1 September ia memberlakukan tarif 10 persen untuk barang-barang Tiongkok senilai US$ 300 miliar.

Di tengah berita tersebut, AS mengeluarkan pengumuman baru. Mereka akan menunda pengenaan tarif tersebut sampai 15 Desember agar tidak memberatkan masyarakat AS yang hendak merayakan natal.
(reuters/agt)