Sempat Pelopori Uang Elektronik, Kini Jepang Jauh Tertinggal

CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 19:58 WIB
Sempat Pelopori Uang Elektronik, Kini Jepang Jauh Tertinggal Ilustrasi kegiatan ekonomi di Jepang. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon).
Jakarta, CNN Indonesia -- Jepang sempat menjadi pelopor transaksi nontunai. Kini, Negeri Sakura itu jauh tertinggal karena semakin banyak negara menerapkan pembayaran elektronik. Alasannya, jumlah populasi orang tua di Jepang yang bejibun membuat Jepang lebih menyukai transaksi dengan uang fisik ketimbang nontunai.

Seperti dilansir AFP, Rabu (21/8), empat dari lima transaksi pembelian di Jepang masih menggunakan uang tunai. Alasan lain, tidak ada kejahatan pemalsuan uang, sehingga masyarakatnya nyaman membawa uang tunai.

Padahal, Jepang memiliki reputasi sebagai negara futuristik yang selalu mengedepankan inovasi.

Sementara, di Korea Selatan, sekitar 90 persen transaksi sudah bersifat digital. Begitu pula di Swedia, yang sedari sekarang menuju gerakan tanpa uang tunai pada 2023 mendatang.

Toko perbaikan sepeda di Jepang Katsuyuki Hasegawa menyebut mengundang para pelanggannya untuk membayarkan tagihan mereka menggunakan Paypay, instrumen pembayaran elektronik milik Softbank dan Yahoo berbasis QR Code. Pembayarannya mudah karena dapat dilakukan melalui ponsel pintar.

Namun, penjaga toko Katsuyuki Hasegawa mengaku hanya 2-3 orang pelanggan saja yang datang menggunakan pembayaran elektronik. Kebanyakan pelanggan yang datang merupakan orang tua yang senang mengobrol dan bersantai-santai. Mereka senang membayar dengan uang fisik.

"Mereka tidak perlu transaksi yang cepat. Secara pribadi, saya lebih suka uang tunai. Dengan PayPay, Anda tidak melacak uang Anda" ujar penjaga toko berusia 40 tahun tersebut.

Analis NLI Research Institute Yuki Fukumoto mengatakan dengan kondisi Jepang, negara dengan populasi orang tua terbanyak, yaitu lebih dari 28 persen penduduknya berusia di atas 65 tahun, membujuk konsumen menggunakan teknologi baru bukan lah hal mudah.

Bahkan, ia menilai tantangannya semakin serius. Masyarakat mengandalkan uang tunai dari 200 ribu mesin ATM yang tersebar di sebagian besar toko-toko hanya untuk menghindari biaya transaksi.

"Tantangan sekarang adalah bagaimana memotivasi konsumen untuk mengubah kebiasaan mereka," imbuh Fukumoto.

Pemerintah Jepang berharap gelombang wisatawan yang akan membanjiri Olimpiade Tokyo pada 2020 nanti akan mendongkrak transaksi nontunai. Bahkan, Pemerintah Jepang disebut akan memperkenalkan sistem poin hadiah kepada pelanggan untuk pembayaran elektronik.

Perusahaan yang menyelenggarakan sistem pembayaran juga rajin mempromosikan gerakan nontunai. Akiko Yamanaka, pengelola restoran Koguma, salah satunya yang menawarkan diskon 10 persen untuk pembayaran elektronik menggunakan PayPay.
[Gambas:Video CNN]
"Semakin banyak kampanye seperti ini, semakin banyak orang akan beralih dari transaksi uang tunai ke uang elektronik," kata pria berusia 54 tahun itu.

Bos Rakuten Hiroshi Mikitani meyakini tidak ada lagi uang fisik di masa depan, termasuk di Jepang. "Suatu hari nanti, uang yang kita tahu, kertas dan koin, akan menjadi usang dan dapat dikoleksi seperti cakram vinil saat ini," tulisnya dalam blog.

Pun demikian, ia mengingatkan agar keamanan dompet-dompet elektronik sebagai alat pembayaran harus ditingkatkan. "Keamanan harus ditingkatkan, terutama setelah terjadi peretasan pada sistem pembayaran elektronik berbasis QR Code," tandasnya.


(AFP/bir)