Harga Minyak Dunia 'Kisut' Jelang Pidato Gubernur The Fed

CNN Indonesia | Jumat, 23/08/2019 08:00 WIB
Harga Minyak Dunia 'Kisut' Jelang Pidato Gubernur The Fed Ilustrasi minyak dunia. (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia melemah jelang pidato Jerome Powell, Gubernur The Fed. Harga minyak melemah karena pelaku pasar tengah mengantisipasi sinyal penurunan suku bunga acuan lanjutan oleh bank sentral AS.

Pidato Powell berlangsung di Jackson Hole, Wyoming, ini rencananya berlangsung Jumat (23/8) waktu setempat.

Dikutip dari Reuters, Jumat (23/8), harga Brent (LCOc1) turun US$0,38 per barel atau 0,6 persen ke angka US$59,92 per barel. Sementara, harga West Texas Intermediate (WTI) melemah US$0,33 per barel atau 0,6 persen ke angka US$55,35 per barel.

Pidato Powell krusial bagi pergerakan harga minyak mengingat kebijakan pelonggaran moneter AS bisa berdampak ke nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang. Nilai tukar yang melemah bisa menyokong harga minyak.

"Fokus pelaku pasar akan beralih ke aspek makro. Meski kami tidak berharap tidak akan ada pergerakan yang bisa mengubah harga aset lebih besar dari 1 persen, namun kami merasa momentum kenaikan harga minyak masih bisa menyesuaikan dampak dari Jackson Hole," jelas Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch.

Kekhawatiran mengenai dampak perang dagang antara AS dan China sebelumnya telah mendorong The Fed untuk memangkas suku bunga acuannya pertama kali sejak 2008.

Jika pertumbuhan global terus loyo, maka ada kekhawatiran permintaan minyak juga akan lesu di masa datang. International Energy Agency (IEA) bahkan menurunkan proyeksinya terkait permintaan minyak global.

Meski dihantui penurunan permintaan, harga minyak masih tercatat lebih mahal di tahun ini setelah negara-negara produsen minyak mentah dunia (OPEC) memangkas suplai dan AS menjatuhkan sanksi kepada Iran dan Venezuela. Harga Brent, contohnya, meningkat 13 persen pada tahun ini.

Harga minyak juga masih didukung oleh turunnya persediaan minyak mentah di Cushing, Oklahoma, sebesar 1,5 juta barel antara Jumat dan Selasa pekan ini. Sehingga, persediaan tercatat menurun terus selama tujuh pekan berturut-turut.
[Gambas:Video CNN]


(glh/bir)