Bank Mandiri Yakin Ekonomi AS Tahun Depan Jauh dari Resesi

CNN Indonesia | Selasa, 10/09/2019 10:23 WIB
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk meyakini ekonomi Amerika Serikat belum akan mengalami resesi pada 2020, melainkan hanya melambat sementara. Aktivitas ekonomi di Amerika Serikat. (REUTERS/Brendan McDermid).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk meyakini ekonomi Amerika Serikat (AS) belum akan mengalami resesi pada 2020 mendatang. Ekonomi Negeri Paman Sam itu dinilai hanya melambat sementara.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andri Asmoro mengatakan yield US Treasury (imbal hasil surat utang AS) bisa menjadi salah satu acuan ekonomi AS. Ia mengakui imbal hasil surat utang negara itu memang terus menurun, tapi belum negatif.

"Yield surat utang antara tenor panjang dan pendek semakin turun. Untuk tenor dua tahun dan 10 tahun belum negatif, tapi kalau tiga bulan ke 10 tahun lumayan. Jadi bukan resesi, penilaian kami hanya melambat (ekonomi AS)," papar Andri, Senin (9/9).


Andri menerangkan ekonomi negara bisa dikatakan resesi apabila pertumbuhannya sudah negatif dan terjadi dalam dua kuartal. Artinya, hal ini tidak bisa diukur dalam jangka pendek.

"Resesi itu negatif dua kuartal berturut-turut. Kalau AS masih tumbuh tapi lebih kecil dibandingkan dengan periode sebelumnya," ucap Andri.

Diketahui, ekonomi AS pada kuartal I 2019 hanya tumbuh 3,1 persen. Angkanya semakin menurun pada kuartal II 2019 menjadi 2,1 persen.

Ekonomi Asia

Sementara itu, Andri berpendapat kawasan yang mudah terdampak dari tekanan global saat ini adalah negara yang menggantungkan hidupnya dengan perdagangan global. Di Asia, katanya, ada tiga negara yang mudah terpengaruh, yakni Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Namun, bukan berarti ketiga negara itu rentan resesi dalam jangka pendek. Singapura misalnya, pemerintah negara itu hanya merevisi pertumbuhan ekonominya menjadi 0 persen-1,0 persen karena meningkatnya tensi perang dagang AS dan China.

"Iya kan hanya menurunkan jadi nol persen, artinya tidak tumbuh tapi kan tidak negatif," terang Andri.

Sementara itu, ekonomi Thailand terbantu dari banyaknya pabriknya asal China yang pindah ke negara tersebut. Tanpa itu, Andri tak menampik bahwa Thailand bakal resesi karena ekonominya bergantung dengan perdagangan global.

"Thailand masih ada peluru dari masuknya banyak perusahaan sektor manufaktur, banyak investasi. Beda kalau ketika bergantung dengan perdagangan global tapi tidak ada kompensasi lain dari investasi mungkin bisa resesi," papar Andri.

Andri menyebut Indonesia termasuk yang beruntung karena tidak bergantung dengan perdagangan global. Menurutnya, 80 persen penopang ekonomi Indonesia berasal dari domestik.

"Mungkin eksternal rasionya hanya 10 persen. Jadi dampaknya tidak sebesar itu," ucap dia.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2019 hanya 5,05 persen. Realisasinya melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,27 persen.

Konsumsi masyarakat masih memegang peranan tinggi dalam pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Sementara itu, komponen lainnya dipengaruhi oleh belanja pemerintah, investasi, ekspor, dan impor.

Sebagai gambaran, konsumsi rumah tangga memberikan sumbangan sebesar 55,79 persen untuk pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019. Sementara, belanja pemerintah 8,71 persen, ekspor barang dan jasa 17,61 persen, dan komponen dikurangi impor barang dan jasa sebesar 18,53 persen.

[Gambas:Video CNN] (aud/lav)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK