Permintaan ini sejalan dengan 'bisikan' Bank Dunia kepada Kepala Negara mengenai potensi industri tersebut di tengah kemelut perang dagang Amerika Serikat dan China.
Hal ini diungkapkan Jokowi saat melangsungkan pertemuan dengan perwakilan pelaku usaha mebel, kayu, dan rotan dari berbagai asosiasi di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Selasa (10/9). Turut hadir jajaran menteri bidang ekonomi menemani Jokowi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, mantan gubernur DKI Jakarta itu ingin para menteri bisa segera meracik kebijakan yang mampu mendorong daya saing dan kinerja ekspor industri ini. Dengan begitu, para pelaku usaha bisa benar-benar meningkatkan produktivitas dan penetrasi di pasar internasional dengan produk yang lebih unggul daripada yang ditawarkan oleh negara lain.
Tak ketinggalan, ia juga ingin para pelaku usaha di sektor industri ini memberikan masukan-masukan kepada pemerintah mengenai fasilitas hingga insentif apa yang sekiranya dibutuhkan.
Sebelumnya, Bank Dunia juga pernah memberi melaporkan ada 33 perusahaan yang keluar dari China dalam dua bulan terakhir. Dari 33 perusahaan itu, sebanyak 23 perusahaan memilih pindah ke Vietnam dan mendirikan bisnis di sana.
Sisanya, 10 perusahaan pindah ke Malaysia, Kamboja, dan Thailand. "Tidak ada yang ke Indonesia, tolong ini digarisbawahi. Hati-hati, berarti kita punya persoalan yang harus kita selesaikan," tuturnya.
Menurutnya, perusahaan yang keluar dari China tidak memilih Indonesia karena perizinan yang rumit. Padahal, negara-negara tetangga hanya menawarkan waktu dua bulan untuk mengurus perpindahan izin.
Begitu pula dengan 73 perusahaan yang keluar dari Jepang. Ia mengatakan sebanyak 43 perusahaan lari ke Vietnam, 11 perusahaan ke Thailand dan Filipina, sisanya hanya 10 perusahaan yang ke Indonesia.
[Gambas:Video CNN] (uli/lav)