Berdasarkan surat yang diterima oleh CNNIndonesia.com, penagihan utang ditujukan kepada Sriwijaya Air dan Nam Air. Angka tersebut juga sudah mencakup utang yang belum (not due) dan sudah lewat jatuh tempo (overdue).
Bila dirinci, nilai utang Sriwijaya Air yang belum jatuh tempo sebesar Rp57,97 miliar atau US$431,67 ribu, jumlah yang sudah lewat jatuh tempo adalah Rp77,23 miliar atau US$1,29 juta, dan ditambah restrukturisasi sebesar Rp377,62 miliar atau US$1,83 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon kerja sama Sriwijaya untuk menyelesaikan outstanding overdue tersebut selambat-lambatnya pada Rabu 18 September 2019," ungkap Direktur Keuangan Manager Billing & Collection Gatot Siswowijono dalam surat tersebut, dikutip Jumat (13/9).
Surat tersebut khususnya ditujukkan kepada Direktur Keuangan Sriwijaya Air. Diterbitkan pada 11 September 2019 dengan nomor surat 037/H10530/2019-S4.
[Gambas:Video CNN]
Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman enggan memberikan konfirmasi ketika dihubungi oleh CNNIndonesia.com. Manajemen mengaku tak bisa memberikan penjelasan.
"Mohon maaf, kami tidak bisa menyampaikan informasi mengenai hal tersebut," kata Fajriyah kepada CNNIndonesia.com.
Ia juga tak memberikan kepastian terkait apakah yang ditagih hanya piutang Sriwijaya Air Group yang sudah lewat jatuh tempo atau seluruhnya.
"Maaf, ini adalah informasi business to business (b to b), bukan informasi publik. Mohon maaf kami tidak dapat menyampaikannya," ucap Fajriyah.
Sementara, CNNIndonesia.com juga sudah menghubungi Wakil Komisaris Sriwijaya Air Chandra Lie dan enior Manager of Corporate Communications Sriwijaya Air Retri Maya, tapi keduanya belum merespons hingga berita ini diturunkan.