Mengenal Teknologi VCM untuk Bangun Tol Trans-Sumatera

Hutama Karya, CNN Indonesia | Sabtu, 21/09/2019 20:04 WIB
Mengenal Teknologi VCM untuk Bangun Tol Trans-Sumatera Teknologi canggih yang disebut VCM digunakan untuk mempercepat pembangunan jalan tol Trans – Sumatera.(Dok. Hutama Karya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pembangunan proyek Jalan Tol Trans Sumatera oleh Hutama Karya sepanjang 2.765 kilometer masih terus dipercepat penggarapannya. Hingga akhir 2019 mendatang, diperkirakan sepanjang 365 kilometer jalan bebas hambatan ini sudah terbangun dan beroperasi.

Proses konstruksi Jalan Tol Trans Sumatera dikerjakan dengan cukup berbeda dengan sentuhan teknologi terbaru. Untuk pertama kalinya di Indonesia Kementerian PUPR berkolaborasi dengan Hutama Karya menerapkan penggunaan teknologi canggih yang disebut VCM guna mempercepat pembangunan jalan tol Trans - Sumatera.

Teknologi ini diterapkan guna mengurangi kadar air maupun kadar udara yang ada di tanah. Pasalnya, sebagian besar wilayah Sumatera didominasi oleh tanah gambut dan rawa. Tanpa teknologi VCM, akan sangat sukar untuk membangun jalan di atas tanah seperti ini.


Salah satu ruas tol yang dibangun menggunakan teknologi ini adalah ruas Palembang - Indralaya.

Vacuum Consolidation Method (VCM) sendiri merupakan penyedot vakum ke dalam massa tanah yang terisolasi untuk mengurangi tekanan atmosfer dan tekanan air pori di dalam tanah, sehingga dapat mempercepat proses penurunan dan pemadatan lapisan tanah dalam waktu singkat.

Menurut Alex Noerdin, dalam membangun jalan tol banyak teknologi yang bisa dipilih dan diterapkan, namun teknologi VCM ini lebih cepat dan juga lebih murah. Teknologi ini bahkan pernah diterapkan di Swedia pertama kali pada tahun 1950-an. Selanjutnya teknologi VCM ini juga digunakan di China ketika membangun ribuan kilometer jalan tol.

Teknologi ini menawarkan banyak kelebihan di antaranya dapat meminimalisir sumber daya dan penggunaan alat berat dan kemudian konsolidasi atau penurunan tanah yang dihasilkan bersifat isotropic sehingga mengurangi resiko ketidakstabilan lereng.

Kelebihan lain yang dimiliki yakni memiliki hambatan yang rendah terhadap efektivitas pekerjaan dan dapat overlap dengan pekerjaan lainnya. Ditambah lagi teknologi ini sangat ramah lingkungan, sebab perbaikan tanah bersifat otomatis tanpa menggunakan bahan- bahan kimia. Bukan tidak mungkin jika metode ini dapat diterapkan lagi untuk kondisi yang serupa.

Ditambah lagi dengan sistem VCM ini proses penurunan tanah dapat dilakukan lebih cepat yaitu sekitar empat bulan jika dibandingkan dengan metode konvensional dengan menerapkan sistem drainase vertikal melalui Perforated Vertical Drain (PVD) yang dapat mencapai satu tahun. (vws)