Di Markas PBB, Jusuf Kalla Curhat soal Harga Kopi Anjlok

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Kamis, 26/09/2019 13:09 WIB
Di Markas PBB, Jusuf Kalla Curhat soal Harga Kopi Anjlok Wakil Presiden Jusuf Kalla. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presien Jusuf Kalla (JK) mencurahkan hati (curhat) mengeluhkan harga biji kopi dunia yang anjlok 70 persen sejak 1982 silam. Keluhan itu disampaikannya dalam forum bertajuk Aksi Bersama Mengatasi Krisis Harga Kopi dan Mencapai Produksi Kopi Berkelanjutan di Markas Besar PBB, di New York, Amerika Serikat (AS), Rabu (25/9) waktu setempat.

Keluhan krisis harga kopi perlu diutarakan mengingat 25 juta petani kecil kopi di seluruh dunia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Indonesia sendiri memiliki 1,8 juta petani kopi, yang 90 persen lahan kopi di Indonesia dikelola oleh petani kecil," ujar JK, seperti dilansir dari laman setkab.go.id.

Menurut JK, penyebab anjloknya harga kopi dikarenakan kelebihan pasokan biji kopi di dunia. Ia mengaku prihatin karena keuntungan industri kopi besar dunia meningkat, namun tidak diiringi dengan keuntungan industri kopi petani kecil.

"Saya ingin menggaris bawahi dampak dari krisis harga kopi ini. Petani kecil adalah korban yang paling dirugikan. Petani kecil, bukan industri maupun konsumennya," imbuhnya.

Akibatnya, lanjut JK, banyak petani kopi beralih profesi akibat menanam kopi tidak lagi menjadi sumber penghidupan yang diminati.

Ia pun mengajak negara-negara penghasil kopi untuk membuat terobosan memperbaiki nasib produsen kopi di negara masing-masing. "Kita tidak bisa berdiam diri," ajaknya.

Dalam forum yang diinisiasi Kolombia tersebut, JK mengusulkan langkah-langkah untuk mengatasi kemerosotan harga kopi dunia. Pertama, memperluas pasar kopi dan mengendalikan jumlah pasokan.

Kedua, meningkatkan kemampuan petani kecil agar dapat menghasilkan kualitas kopi yang lebih baik dan bernilai tambah.

Ketiga, perlunya dibangun kemitraan antara industri dan petani kecil. Contoh, industri kopi besar menggalang program atau kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk peningkatan kapasitas petani kecil.

Keempat, perlu upaya khusus untuk menjaga keseimbangan harga kopi bagi petani, industri, dan konsumen. "Diperlukan dukungan International Coffee Organization (ICO) dalam hal ini," tegas JK.
[Gambas:Video CNN]


(bir)