Sudah Rujuk, Garuda Minta Citilink Cabut Gugatan ke Sriwijaya

CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 14:56 WIB
Sudah Rujuk, Garuda Minta Citilink Cabut Gugatan ke Sriwijaya Maskapai Citilink Indonesia. (ANTARA FOTO/Lucky R.).
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ari Askhara mengaku telah meminta anak usahanya PT Citilink Indonesia mencabut gugatannya terhadap PT Sriwijaya Air dan PT NAM Air. Upaya itu dilakukan usai dua maskapai penerbangan tersebut memutuskan untuk melanjutkan Kerja Sama Manajemen (KSM).

"Saya sudah minta sama Citilink untuk men-drop tuntutan tersebut, sehingga yang penting penumpang terlayani dan para pegawai pastinya," katanya, Kamis (3/10).

Sebelumnya, Citilink Indonesia menggugat Sriwijaya Air dan NAM Air atas dugaan wanprestasi pada KSM yang telah dirintis sejak November 2018 silam.


Maskapai penerbangan berbiaya murah (LCC) itu telah mendaftarkan gugatan ke PN Jakarta Pusat (Jakpus) dengan Nomor Perkara 582/Pdt.G/2019/PN Jkt.Pst dengan kuasa hukum Eri Hertiawan pada Rabu (25/9) lalu. Bahkan, sidang pertama dijadwalkan akan digelar di PN Jakarta Pusat pada Kamis 17 Oktober 2019 pukul 09.15 WIB.
Akan tetapi, keduanya memutuskan melanjutkan kerja sama pada Selasa (1/10). Kelanjutan kerja sama itu adalah hasil dari pertemuan antara Garuda Indonesia dan pemegang saham Sriwijaya Air Group yang difasilitasi oleh Kementerian BUMN.

"Kami sudah sepakat dengan pemegang saham, yang penting seperti spirit yang disampaikan ibu menteri (Menteri BUMN Rini Soemarno) bahwa kami harus melayani penumpang dan para pegawai," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Citilink Juliandra Nurtjahjo mengungkapkan terdapat empat alasan di balik rujuknya Citilink Indonesia dan Sriwijaya Air.

[Gambas:Video CNN]
Pertama, kedua pihak telah berkomitmen untuk mengedepankan safety atau kelayakan dari Sriwijaya Air, yang merupakan prioritas utama dalam terjalinnya KSM tersebut.

Kedua, Juliandra menyebutkan kepentingan pelanggan menjadi pertimbangan dalam berlangsungnya kerja sama tersebut. Ketiga, ia juga menegaskan kelanjutan KSM merupakan bagian dari program penyelamatan aset negara.

Terakhir, kedua pihak menginginkan ekosistem penerbangan Indonesia yang semakin sehat ke depannya.

(ulf/lav)