Bos Garuda Masih Emoh Pasang Logo di Pesawat Sriwijaya Air

CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 19:01 WIB
Bos Garuda Masih Emoh Pasang Logo di Pesawat Sriwijaya Air Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ari Askhara mengaku belum memasang kembali logo perusahaan pada armada Sriwijaya Air, meskipun keduanya memutuskan melanjutkan Kerja Sama Manajemen (KSM).

Ia bilang masih akan mempertimbangkan standar keamanan pada armada Sriwijaya Air sebelum kembali menempelkan logo Garuda Indonesia. Setidaknya, memastikan standar keamanan Sriwijaya Air memenuhi kriteria yang ditetapkan Garuda Indonesia.

"Kami yakinkan 100 persen nanti kami pasang lagi," katanya, Kamis (3/10).

Sebelumnya, VP Corporate Secretary Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan mengatakan pencabutan logo Garuda Indonesia pada armada Sriwijaya Air merupakan upaya perseroan menjaga reputasi merek.

"Khususnya mempertimbangkan konsistensi layanan Sriwijaya Air Group yang tidak sejalan dengan standardisasi layanan Garuda Indonesia Group sejak ada dispute (sengketa) KSM tersebut," ujar Rosan belum lama ini.

Ari menuturkan guna meningkatkan standar pelayanan Sriwijaya Air, maka Garuda Indonesia akan kembali memberikan perawatan pesawat melalui anak usahanya PT GMF AeroAsia. Pasalnya, jasa perawatan pesawat ikut terbengkalai saat terjadi sengketa KSM.

Namun, ia bilang layanan perawatan pesawat akan kembali diberikan secara bertahap. "Kami harapkan dalam waktu dua bulan ke depan sudah normal seperti sebelumnya," tuturnya.

Terhentinya layanan perawatan pesawat dari GMF AeroAsia itu membuat penilaian Hazard, Identification, and Risk Assessment (HIRA), Sriwijaya Air Group masuk rapor merah. Ini artinya, berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.

Hal itu diungkapkan oleh dua direktur Sriwijaya Air yakni, Direktur Operasi Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Ramdani Ardali Adang. Keduanya telah resmi mengundurkan diri dari posisinya pada Senin (30/9) silam.

Tak hanya itu, Ramdani mengungkapkan tenaga kerja teknisi Sriwijaya Air juga terbatas. Ia merinci tiga teknisi dan dua mekanik digenjot untuk bekerja selama 12 jam. Padahal, untuk merilis pesawat layak terbang, mereka perlu beristirahat.
[Gambas:Video CNN]
"Saya terus terang, sejak putus GMF hingga saat ini, saya khawatir sekali HIRA-nya cukup merah. Memang, belum terjadi sesuatu, tapi dari indikasi tersebut berpotensi terhadap penerbangan. Surat kami tidak dipedulikan, lebih baik mengundurkan diri," katanya belum lama ini.

Menanggapi hal tersebut, Ari memastikan standar keamanan Sriwijaya Air akan kembali pulih sejalan dengan berjalannya kembali KSM dengan Garuda Indonesia.

"Kalau kami Garuda Indonesia, pasti standar safety-nya cukup tinggi," tandasnya.


(ulf/bir)