Aktivitas Manufaktur AS Cedera Bukan Cuma Ulah Perang Dagang

CNN Indonesia | Selasa, 15/10/2019 13:47 WIB
Aktivitas Manufaktur AS Cedera Bukan Cuma Ulah Perang Dagang Ilustrasi bendera Amerika Serikat. (morgueFile/click).
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivitas pabrik-pabrik di Amerika Serikat (AS) cedera, tak hanya karena perang dagang antara Negeri Paman Sam dan China, tetapi juga dipengaruhi pemogokan kinerja bisnis General Motors (GM) dan krisis kasus Boeing 737 Max.

Sejumlah ekonom mengkhawatirkan tiga tantangan itu menjadi penyebab kontraksi pada sektor manufaktur dalam tiga bulan berturut-turut pada Oktober 2019. Penurunan output dari pabrik-pabrik AS diperkirakan dapat menyusutkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal ketiga dan keempat tahun ini.

Ketegangan perdagangan antara AS dan China telah membebani permintaan global dan biaya bahan baku produksi. Kesepakatan perdagangan dapat meredakan kondisi manufaktur AS, tetapi tidak akan mengurangi dampak dari pemogokan GM yang sedang berlangsung atau penghentian sementara operasional pesawat jet pekerja Boeing dalam tujuh bulan terakhir.


GM dan Boeing adalah dua perusahaan industri terbesar di AS, dan kondisi mereka akan mempengaruhi aktivitas pabrik pada Oktober 2019.
"Efek penuh dari pemogokan GM akan terasa dalam data Oktober. Waktu pemogokan selesai masih belum jelas," kata Tom Derry, CEO Institute of Supply Management.

"Saya tidak yakin kita akan keluar dari wilayah kontraksi di bidang manufaktur dan situasi GM akan membuat berapapun jumlahnya menjadi sedikit lebih buruk," tambah Derry.

Sebagai informasi, sebanyak 50 ribu karyawan GM berhenti bekerja pada pertengahan September, persoalan masih belum terselesaikan.

Perusahaan itu menelan biaya US$ 90 juta sehari. Gangguan juga terjadi melalui rantai pasokan produsen mobil. Sekitar 10 ribu perusahaan AS memasok GM dengan produk dan layanan, seperti jok mobil dan chip komputer. Dengan demikian, banyak yang harus mengurangi produksi karena penghentian kerja.
Berdasarkan survei yang dilakukan Refintiv, ekonom memiliki ekspektasi rata-rata 47,8 untuk indeks manufaktur Oktober Institute of Supply Management, level itu turun dari bulan sebelumnya. Indeks, yang selanjutnya akan diterbitkan pada 1 November, telah jatuh selama dua bulan berturut-turut. Angka di bawah 50 menunjukkan sektor manufaktur sedang berkontraksi.

Kondisi sebanyak 50 ribu karyawan GM yang tidak menerima gaji rutin bisa berdampak pada pengeluaran konsumen selama musim liburan. Sementara itu, produksi kembali Boeing untuk 737 Max membebani kontribusi ekspornya, karena banyak jet darat itu seharusnya ditujukan untuk pasar luar negeri.
(CNN/lav)