Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang dulunya ditempati Darmin Nasution kini digantikan oleh Airlangga Hartarto. Ia sebelumnya menjabat sebagai menteri perindustrian.
Sementara, Jokowi menunjuk Agus Gumiwang sebagai Menteri Perindustrian. Lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ditempati oleh Erick Thohir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khususnya, Airlangga yang saat ini menggantikan posisi Darmin Nasution sebagai menteri koordinator bidang perekonomian. Menurut Bhima, posisi strategis seperti itu seharusnya ditempati oleh seorang profesional.
"Kalau yang menempati dari politisi akan terjadi konflik kepentingan. Kondisi ekonomi kan lagi melambat, ada ancaman resesi global. Ini seharusnya dikelola oleh profesional," ucap Bhima kepada CNNIndonesia.com, Rabu (23/10).
Selain itu, ada Agus Gumiwang yang juga seorang politikus Golkar. Ditambah, Agus Suparmanto yang berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Syahrul yang berasal dari Partai NasDem.
Bhima khawatir menteri-menteri yang juga seorang politikus ini hanya akan bekerja sampai 2022 atau dua tahun jelang berakhirnya masa jabatan Jokowi. Sebab, mereka akan sibuk untuk menyusun strategi menyambut pemilihan presiden 2024 mendatang.
"Kerjanya bisa saja terpecah, hanya sampai 2022. Pecah untuk kemenangan 2024," ucapnya.
"Menteri-menteri dari politisi ini punya agenda berbeda-beda, punya agenda besar partai," ujar dia.
Makanya, ia ragu ekonomi dan investasi dalam negeri bisa meningkat tajam di pemerintahan Jokowi jilid kedua. Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin Jokowi akan melakukan perombakan kabinet (reshuffle) tahun depan.
Diketahui, pertumbuhan ekonomi dalam negeri pada kuartal II 2019 hanya 5,05 persen secara tahunan. Angka itu melambat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,27 persen.
Secara persentase, pertumbuhannya melambat karena aliran investasi pada 2017 naik hingga 13,05 persen. Bukan hanya itu, investasi asing juga tampak lesu tahun lalu.
Angkanya turun 8,78 persen dari Rp430,5 triliun menjadi Rp392,7 triliun. Menyedihkannya lagi, ketika negara lain kecipratan investasi besar dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, Indonesia justru harus gigit jari.
"Saya prediksi ada reshuffle, karena dalam 100 hari pemerintahan Jokowi tidak sesuai dengan ekspektasi. Apalagi kalau ekonomi semakin melambat, nanti pasti ada evaluasi," ujar Bhima.
Di sisi lain, Ekonom Bank Permata Josua Pardede masih optimistis orang-orang pilihan Jokowi masih bisa membawa ekonomi Indonesia lebih baik lagi. Terlebih, Sri Mulyani masih menempati posisi menteri keuangan.
"Posisi kunci tetap di Kementerian Keuangan. Bagaimana mengoptimalkan belanja ke daerah, sehingga diharapkan lebih produktif," terang Josua.
Soal banyaknya politisi yang menjadi menteri ekonomi di pemerintahan Jokowi jilid kedua ini, Josua menilai tak ada masalah. Hal ini khususnya Airlangga di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
"Beliau (Airlangga) kan juga ada pengalaman yang sebelumnya di Kementerian Perindustrian, jadi tidak perlu belajar dari awal," pungkas Josua.