Dorong Ekonomi, China Pangkas Suku Bunga Acuan

CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 21:53 WIB
Dorong Ekonomi, China Pangkas Suku Bunga Acuan Ilustrasi perang dagang AS-China. (Istockphoto/Dilok Klaisataporn)
Jakarta, CNN Indonesia -- China memangkas suku bunga acuan untuk menopang perekonomian negara yang terdampak perang dagang dengan AS.

Dilansir dari AFP, China memangkas suku bunga sebagai upaya untuk mendinginkan permintaan domestik. Pasalnya, perang dagang dengan AS telah 'memukul' pertumbuhan ekonomi China.

China melakukan pengurangan suku bunga dasar kredit (Loan Prime Rate/LPR), yang merupakan salah satu suku bunga preferensial.


LPR diberlakukan bank komersial pada pelanggan terbaik mereka dan berfungsi sebagai referensi untuk suku bunga pinjaman lainnya. Dalam keterangan resminya People's Bank of China (PBoC) telah menurunkan LPR tahunan dari 4,20 persen pada Oktober menjadi 4,15 persen.

Sementara, LPR lima tahunan juga diturunkan menjadi 4,8 persen dari 4,85 persen. Suku bunga dasar kredit lima tahunan menjadi dasar kreditur untuk memberikan tingkat hipotek.

Pada Agustus lalu, PBoC mengumumkan rencana perubahan pasar dengan suku bunga pinjaman baru. Di China, suku bunga dasar kredit atau LPR dirilis pada hari ke-20 setiap bulan. LPR didasarkan pada tingkat operasi pasar terbuka bank sentral, khususnya tingkat fasilitas pinjaman jangka menengah.

Pemangkasan LPR merupakan langkah terbaru untuk mengurangi biaya pinjaman. Beijing sedang berjuang untuk memperbaiki ekonomi dan memasuki babak baru.

Pasalnya, negara tersebut berada dalam laju terendah selama hampir tiga dekade pada kuartal ketiga. Kondisi ini dikarenakan perang perdagangan AS, jatuhnya permintaan global untuk barang China dan pertempuran pemerintah melawan hutang.

PBoC pun telah memangkas seven-day reverse repurchase menjadi 2,50 persen dari 2,55 persen. Penurunan ini mendorong bank-bank komersial untuk meminjamkan lebih banyak kepada perusahaan-perusahaan kecil dan menengah.

Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics menilai memotong LPR hanya berdampak kecil pada perekonomian karena tidak menurunkan suku bunga pada sebagian besar pinjaman yang belum dibayar. Terutama pinjaman yang terkait dengan suku bunga pinjaman tradisional PBoC.

Pritchard menilai penurunan LPR lima tahun mengisyaratkan kemungkinan pelunakan pembatasan pembelian properti diberlakukan untuk mengurangi gelembung harga.

[Gambas:Video CNN] (AFP/age)