Pengamat Prediksi Ekonomi RI 2020 Cuma Tumbuh 4,8 Persen

CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 17:11 WIB
Pengamat Prediksi Ekonomi RI 2020 Cuma Tumbuh 4,8 Persen Pengamat Indef memprediksi ekonomi RI pada 2020 cuma tumbuh 4,8 persen karena perlambatan ekspor. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada 2020 nanti. Diperkirakan pertumbuhannya hanya mencapai 4,8 persen.

Padahal target pertumbuhan ekonomi yang dipatok oleh pemerintah dalam APBN 2020 sebesar 5,3 persen.

Direktur Riset Indef Berly Martawardaya menyampaikan proyeksi tersebut didasari oleh faktor ekspor yang melambat dan faktor jalur transmisi untuk investasi.

Belum lagi, permasalahan defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan masih menghantui.

"Sepertinya kita tidak menikmati kenaikan seperti 5 atau 10 tahun lalu. Biasanya setelah pemilu ada kenaikan investasi, tapi dengan masalah perang dagang dan politik sepertinya sangat sulit buat kita alami tahun depan," imbuh Berly di Jakarta pada Selasa (26/11).

Selain itu, konflik dagang antara Jepang dan Korea Selatan yang ikut mempengaruhi prospek ekonomi di kawasan Asia, termasuk pertumbuhan ekonomi Singapura yang diperkirakan nol persen.

Makanya, dari dalam negeri, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 55-57 persen terhadap pertumbuhan ekonomi terus dijaga. Untuk menjaga konsumsi rumah tangga, pemerintah menyalurkan bantuan sosial, sembari menjaga bansos tepat sasaran.

"Jangan sampai uang yang ada dari APBN tidak tepat sasaran. Memang perlu di-update lagi data by name by address ya, sehingga betul-betul yang membutuhkan yang menerima. Jangan sampai bocor ke kelas menengah atas," jelas Berly.

Berbeda dengan Indef, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan optimistis pertumbuhan ekonomi RI dapat mencapai 5,3 persen, terlebih jika omnibus law dapat segera rampung.

Menurutnya investasi di Indonesia akan meningkat dengan omnibus law pada Undang-Undang Cipta Lapangan kerja dan Undang-Undang Perpajakan.

Selain itu, insentif tax holiday yang telah disetujui pada 20 Oktober lalu juga sudah mengumpulkan Rp525 Triliun untuk 45 wajib pajak.

"Kita lihat sekarang alasannya pertama ketegangan AS dan Cina sudah mulai mereda mulai ada titik temu. Dengan itu pasti nanti global demand naik. Saya termasuk tidak yakin akan terjadi resesi ekonomi dunia," katanya.
[Gambas:Video CNN]


(hns/bir)