Menko Airlangga Kejar Ekonomi Tumbuh 5,6 Persen pada 2020

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 13:50 WIB
Menko Airlangga Kejar Ekonomi Tumbuh 5,6 Persen pada 2020 Menko perekonomian Airlangga menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen pada 2020. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan ekonomi Indonesia dapat tumbuh antara 5,3 persen hingga 5,6 persen pada 2020. Angka tersebut didukung oleh investasi yang diperkirakan meningkat sebesar 7 persen hingga 7,4 persen dan ekspor yang juga naik 5,5 persen hingga 7 persen.

Airlangga telah memetakan strategi dan langkah prioritas untuk menghadapi tantangan ekonomi di 2020. Pertama, pemerintah akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui transformasi struktural untuk memperkuat permintaan domestik dan kinerja perdagangan internasional.

Kedua, menjaga stabilitas ekonomi makro dengan menjaga harga domestik dan nilai tukar pada tingkat yang stabil dan kompetitif. Ketiga, meningkatkan inklusivitas dan ekonomi yang berkelanjutan.


"Peningkatan daya saing juga menjadi satu hal yang menjadi fokus perhatian. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan pun diperlukan untuk bisa keluar dari garis kemiskinan dan mendorong pembangunan manusia," ujar Airlangga dalam acara US-Indonesia Investment Summit 2019 di Jakarta, Kamis (21/11).

Airlangga pun memaparkan dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi diperkirakan didukung oleh sektor industri yang akan meningkat antara 5 persen hingga 5,5 persen.

Sementara tingkat pengangguran diperkirakan akan turun menjadi 4,8 persen hingga 5 persen, disertai penurunan tingkat kemiskinan di kisaran 8,5 persen hingga 9 persen.

Kemudian mengenai investasi, Airlangga mengungkap akan mengoptimalkan sistem Online Single Submission (OSS), meningkatkan efektivitas Satuan Tugas Percepatan Investasi, Relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI), dan pengesahan sektor prioritas investasi.

Selain itu, implementasi tax holiday dan super deduction tax serta pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri juga menjadi kebijakan andalan.

"Pemerintah juga tengah menyiapkan Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, yang bertujuan untuk semakin menyederhanakan proses perizinan," terang Airlangga.

Dari sisi makro, Airlangga melihat ekonomi Indonesia sebenarnya masih tumbuh berkualitas di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi ini juga diiringi dengan penurunan tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan, dan rasio gini.

"Dibandingkan dengan rekan-rekan kita di ASEAN, Indonesia diproyeksikan memiliki pertumbuhan yang lebih baik di tahun 2019 ini," ujarnya.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, neraca modal dan finansial mencatat surplus US$7,6 miliar pada kuartal ketiga 2019, didukung oleh aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio.

Akibatnya, neraca pembayaran Indonesia mencatat defisit yang terkendali sebesar US$46 juta pada kuartal ketiga, jauh di bawah defisit pada kuartal kedua 2019 yang mencapai US$2 miliar. Kinerja neraca pembayaran juga didukung oleh defisi transaksi berjalan yang dikelola pada 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pun menunjukkan kinerja investasi terjaga. Angka realisasi investasi untuk Domestic Direct Investment (DDI) dan Foreign Direct Investment (FDI) untuk kuartal ketiga 2019 mencapai jumlah Rp205,7 Triliun.

Angka ini meningkat 18,5 persen bila dibandingkan periode yang sama pada 2018.

"Artinya, secara fundamental kondisi perekonomian kita cukup kuat dan stabil, tapi juga senantiasa berhati-hati terutama dalam menyikapi gejolak ekonomi global belakangan ini," jelas Airlangga.

[Gambas:Video CNN] (uli/age)