Dorong Produksi Minyak, Pertamina Siapkan Modal Rp112 T

CNN Indonesia | Rabu, 27/11/2019 10:51 WIB
Dorong Produksi Minyak, Pertamina Siapkan Modal Rp112 T Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengatakan perusahaan akan gelontorkan belanja modal Rp112 triliun pada 2020. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyatakan mayoritas belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan pada tahun depan akan digunakan untuk meningkatkan produksi minyak di Blok Mahakam. Hal ini sejalan dengan semangat pemerintah dalam mengurangi impor minyak.

Perusahaan pelat merah itu menargetkan capex akan mencapai US$8 miliar atau Rp112,64 triliun pada tahun depan. Jumlah itu meningkat hampir dua kali lipat dari tahun ini sekitar US$4,8 miliar.

Dari jumlah tersebut, kata Nicke, sekitar 60 persen atau US$4,8 miliar akan dialokasikan untuk kegiatan bisnis di sektor hulu (upstream).


"Tahun depan, yang terbesar untuk upstream adalah untuk Blok Mahakam," ucap Nicke di sela acara Pertamina Energy Forum 2019 di Hotel Raffles, Jakarta, Selasa (26/11).

Nicke mengatakan perusahaan akan menganggarkan alokasi dana besar ke Blok Mahakam agar penurunan produksi tidak meningkat. Ia mencatat tingkat penurunan (decline rate) produksi di Blok Mahakam mencapai 57 persen pada 2018, ketika perusahaan pertama kali mengambilalih blok tersebut.

"Kami targetkan untuk menurunkan decline rate ke angka 25 persen," ujarnya.

Untuk mengejar target itu, sambungnya, perusahaan harus memasifkan eksplorasi sumur. Perusahaan menargetkan bisa melakukan eksplorasi di 122 sumur pada tahun depan.

"Tahun lalu kami lakukan di sekitar 76 sumur," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]
Di sisi lain, Nicke mengatakan perusahaan juga akan mengalokasikan capex untuk pengembangan Blok Rokan. Sayangnya, ia enggan merinci berapa besar porsi aliran capex yang bisa mengalir ke blok tersebut.

"Ini jadi concern kami juga, sehingga nanti kami harapkan pada Agustus 2021 tidak terjadi penurunan atau decline rate yang tinggi di Rokan, karena Rokan jadi salah satu andalan dari produksi," tuturnya.

Sementara per kuartal III 2019, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memperoleh laba sebesar US$753 juta atau berkisar Rp10,5 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS). Perolehan laba tersebut di luar komponen kompensasi harga jual.

Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury kala itu mengungkap laba perseroan tersebut belum dimasukkan komponen kompensasi karena masih menunggu audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Laba kami kuartal III kurang lebih US$753 juta. Tapi kalau dimasukkan komponen penggantian atau kompensasi harga jual sekitar US$1 miliar, jadi total sekitar US$1,7 miliar," kata Pahala.

Perusahaan mengalokasikan US$2,6 miliar atau 60 persen dari total capex US$4,3 miliar untuk kegiatan di sektor hulu, termasuk Blok Mahakam dengan nilai berkisar US$900 juta sampai US$1 miliar. Sementara sektor hilir, perusahaan fokus mengembangkan kilang yang akhir tahun diperkirakan mencapai US$800 juta.

(uli/agt)