Jurus BJB Hadapi Ancaman Resesi Global

Bank BJB, CNN Indonesia | Rabu, 27/11/2019 19:25 WIB
Jurus BJB Hadapi Ancaman Resesi Global Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank BJB diperkirakan kuat menghadapi isu resesi global yang mengancam perekonomian di Tanah Air.

Hal itu paling tidak ditunjukkan selama perjalanan bank yang dikendalikan Pemprov Jawa Barat itu pada 1998 dan 2008 silam.

Dalam riset CNBC Indonesia.com disebutkan, likuiditas Bank BJB cukup longgar yang tercermin dalam loan to deposit ratio (LDR) di level 88, 1 persen pada Kuartal III/2019, dibandingkan dengan industri perbankan yakni 94,66 persen.



"Dengan likuiditas tersebut, BJBR mampu untuk meraih target pertumbuhan kredit 10-11% pada tahun ini serta mendukung pertumbuhan pada tahun depan," demikian riset yang dikutip pada Kamis (27/11).

Capital Adequacy Ratio (CAR) bank BJB sendiri mencapai 16,62 persen dan akan bertambah seiring dengan rencana Private Placement dari sejumlah pemegang saham dengan nilai Rp412 miliar.

Lebih Bergairah

Hingga September 2019, Bank BJB mencatatkan total kredit Rp 81,48 triliun meningkat 9,8 persen di bandingkan dengan setahun sebelumnya. Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya penyaluran kredit pada kuartal III lebih bergairah.

Kesiapan Bank BJB itu juga terkait dengan kondisi pertumbuhan ekonomi global yakni ancaman resesi yang sekarang sudah membayangi beberapa negara. Ini di antaranya adalah Jerman, Argentina, Hong Kong, dan Inggris Raya yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif.


Terkait kinerja, kredit konsumer dengan andalan kredit PNS masih mendominasi portofolio bank BJB. Nilainya mencapai Rp 55,52 triliun pada kuartal III, tumbuh 13 persen dibandingkan dengan setahun sebelumnya.

Kredit untuk PNS memiliki outstanding Rp40,18 triliun, tumbuh 6,2 persen dari setahun sebelumnya. 

Sementara itu, kredit mikro yang disalurkan Bank bjb mencapai Rp 5,76 triliun, naik 9,4 persen dibandingkan dengan setahun lalu. Usaha mikro produktif terbukti menjadi segmen yang kuat dalam menghadapi beberapa kali krisis di Indonesia.

Sementara itu DPK tumbuh 10 persen menjadi Rp 92,53 triliun dengan dana murah mendominasi 51,5 persen. Sama seperti kredit penghimpunan DPK pada kuartal III lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 7 persen.

Walaupun demikian, salah satu faktor yang menguatkan bank daerah itu adalah tingkat kredit bermasalah pada September 2019 berada pada level 1,75% secara gross dan 1,0% secara nett.

"Tingkat NPL ini sangat rendah dibandingkan dengan rata-rata industri perbankan," demikian riset tersebut. (asa)