Erick Thohir Pilih Subholding Dibanding Superholding BUMN

CNN Indonesia | Senin, 02/12/2019 19:26 WIB
Erick Thohir Pilih Subholding Dibanding Superholding BUMN Erick Thohir ingin ubah konsep superholding BUMN menjadi subholding. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bakal mengubah konsep superholding perusahaan pelat merah menjadi subholding.

Sebelumnya, pembentukan superholding BUMN merupakan rancangan Kementerian BUMN jangka panjang. Rencana ini masif digaungkan pada era kepemimpinan Rini Soemarno.

Dalam debat capres 2019-2024, Presiden Joko Widodo mengatakan holding dan superholding BUMN dilakukan agar perusahaan pelat merah bisa semakin besar.


"Bisnis model harus diperbaiki supaya (perusahaan) bisa compete (bersaing) dan bagus," kata Erick saat Kementerian BUMN rapat dengan Komisi VI DPR di Senayan, Jakarta, Senin (2/12).

Erick mengungkapkan subholding BUMN akan fokus pada kegiatan unit usaha masing-masing. Sementara, superholding membawahi berbagai holding dengan bisnis yang beragam.

Ia mencontohkan BUMN sektor pelabuhan Pelindo, yang saat ini terbagi menjadi Pelindo I, II, III dan IV, dapat dibagi fungsinya menjadi pelabuhan peti kemas, curah, yang tidak berdasarkan sub-regionnya.

"Yang akhirnya tidak terjadi kanibal di antara mereka," ungkapnya.

Erick menyebut perubahan konsep tersebut mendukung rencananya untuk memperbaiki model bisnis beberapa BUMN, yang dinilainya masih belum fokus.

Sebagai contoh, PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) yang sudah 'sekarat' dari tahun 1994 silam hingga sekarang.

PANN sendiri merupakan perusahaan pembiayaan (multifinance) yang bergerak di bidang pembiayaan kapal. Perusahaan berdiri sejak 1974 dengan modal dasar Rp 180 miliar.

Menurut Erick, alasan dibalik sekaratnya PANN adalah model bisnis yang tidak fokus. Diketahui, selain kapal, PANN juga memiliki leasing pesawat terbang dan bisnis perhotelan.

"Bagaimana perusahaan leasing bisa hidup kalau tadi sejarahnya ada leasing pesawat terbang, lalu tiba tiba ada bisnis hotel? Semua BUMN ini punya bisnis hotel. Nah, ini kenapa kira harus konsolidasi semua sesuai dengan core bisnisnya," ungkapnya.

[Gambas:Video CNN]

Selain PANN, contoh lain yang diberikan Erick adalah Garuda, yang menurutnya kurang produktif lantara harus mengurusi manajemen penangan pesawat di darat (ground handling) yang seharusnya dapat dilakukan oleh PT Angkasa Pura (AP)

"Kenapa harus ada overlapping yang akhirnya kontraproduktif," tuturnya.

(ara/sfr)