Moeldoko: Pipa Gas Bumi Bisa Kurangi Beban Subsidi Energi

BPH Migas, CNN Indonesia | Rabu, 04/12/2019 16:08 WIB
Moeldoko: Pipa Gas Bumi Bisa Kurangi Beban Subsidi Energi Kepala Staf Kepresidenan RI Jenderal TNI (Purn) Moeldoko saat menjadi keynote spkeaker Focus Grup Discussion (FGD) “Sinergitas Pembangunan Pipa Gas Bumi Trans Kalimantan” Selasa (03/12/19) di Grand Mahkota Hotel Pontianak, Kalimantan Barat. (Dok. BPH Migas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Staf Kepresidenan RI Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengatakan presiden sangat serius membangun infrastruktur sebagai bentuk nyata pemerataan pembangunan. Dalam bidang energi, pembangunan pipa gas menjadi prioritas utama.

Salah satunya pembangunan pipa gas bumi trans-Kalimantan yang diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan energi gas alam sehingga mendorong pengurangan beban subsidi sekaligus mendukung kebutuhan clean energy untuk ibu kota pemerintahan baru.

"Penggunaan gas sebagai sumber energi memberikan efisiensi baik bagi industri maupun bagi pemerintah. Pemerintah sangat akan efisien terutama dalam mengurangi beban subsidi energi untuk rakyat, jika saja energi rumah tangga bisa beralih ke gas bumi," ujar Moeldoko di Pontianak, Selasa (3/12).

Tak hanya itu, pembangunan pipa gas trans-Kalimantan juga sekaligus mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama Kalimantan yang telah memberikan kontribusi besar pada sektor energi untuk NKRI.

"Karena kalau keadilan sosial hanya berbasiskan populasi maka infrastruktur akan terbangun hanya di Pulau Jawa dan Sumatera yang populasi banyak," ujar Moeldoko.

Sementara itu, Kepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa mengungkapkan pipa gas trans-Kalimantan adalah visi jangka panjang dengan konsesi investasi sekitar 16-30 tahun.

"Melihat data yang disampaikan PLN, pemerintah daerah se-Kalimantan, serta SKK Migas, potensi supply dan demand sudah ada. Jadi dalam jangka pendek bisa dibuat kombinasi infrastruktur LNG skala meso dan mini (ISO Tank) yang bersumber dari Natuna dan Bontang dan masuk ke Wilayah Jaringan Distribusi (WJD) serta kawasan industri lain di Kalimantan," ujar Ifan.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji menyampaikan bahwa PT PLN (Persero) Kalimantan Barat sejak tahun 3 tahun terakhir membeli listrik dari Malaysia sebesar 170 megawatt seharga Rp1.050 per kwh.

Untuk menggantikan konsumsi listrik PLN yang dibeli dari Malaysia, PT PLN (Perseo) berencana akan membangun dua pembangkit listrik di Pontianak. Hal ini tentu berpotensi menambah jumlah kebutuhan gas bumi Kalimantan Barat.

"Selain sektor kelistrikan, potensi kebutuhan gas bumi juga datang dari sektor industri. Total potensi demand gas bumi Kalimantan Barat saat ini mencapai 334,3 MMSCFD. Melihat potensi kebutuhan gas bumi tersebut diperlukan kepastian pasokan gas bumi serta pengembangan pasar LNG dan pengembangan Wilayah Jaringan Distribusi (WJD)."

Diketahui, pembangunan pipa gas bumi trans-Kalimantan merupakan tindak lanjut Rencana Induk Gas Bumi Tahun 2012-2025. Kementerian ESDM telah merencanakan pembangunan jalur pipa gas bumi trans-Kalimantan yang membentang dari Bontang - Banjarmasin - Palangkaraya - Pontianak sepanjang 2.219 km.


(fef)