Sri Mulyani Sebut Lifting Migas 2019 di Bawah 2018

CNN Indonesia | Selasa, 07/01/2020 19:59 WIB
Sri Mulyani Sebut Lifting Migas 2019 di Bawah 2018 Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi lifting migas pada 2019 jauh dari target, bahkan di bawah realisasi 2018. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi total produksi minyak dan gas (migas) siap jual atau lifting migas pada tahun lalu tak mencapai target. Bahkan, realisasinya pun di bawah atau lebih rendah dari 2018 lalu.

Ia memproyeksi lifting minyak hanya 741 ribu barel per hari sepanjang tahun lalu. Angka itu di bawah target yang mencapai 775 ribu barel per hari atau realisasi 2018 sebesar 800 ribu barel per hari.

Sementara, lifting gas tahun lalu diproyeksi 1,05 juta barel setara minyak per hari. Padahal, pemerintah mematok target mencapai 1,25 juta barel setara minyak per hari, atau di atas realisasi 2018 lalu yang sebesar 1,2 juta barel setara minyak per hari.

"Sayangnya untuk lifting capaiannya lebih rendah dari asumsi. Lifting migas pada Januari sampai Desember 2019 lebih rendah daripada 2018," kata Sri Mulyani, Selasa (7/1).

Selain itu, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada 2019 diprediksi sebesar US$62 per barel. Angka itu di bawah asumsi yang dipatok sebesar US$70 per barel.

"Pergerakan harga minyak 2019 dipengaruhi turunnya permintaan minyak dunia, isu geopolitik, dan perpanjangan pembatasan produksi OPEC di tengah penambahan produksi oleh AS dan Rusia," papar Sri Mulyani.

Ia menyatakan rendahnya harga minyak dan realisasi lifting migas mempengaruhi penerimaan negara dari sektor migas tahun lalu. Lihat saja, penerimaan pajak penghasilan (PPh) dari sektor migas pada 2019 hanya Rp59,1 triliun atau di bawah target Rp66,2 triliun.

"Harga minyak yang rendah dan lifting yang rendah mempengaruhi pendapatan negara dari sektor migas," pungkas Sri Mulyani.
[Gambas:Video CNN]


(aud/bir)