Kapal Wisata Ilegal di Labuan Bajo Gerus Pendapatan Daerah

CNN Indonesia | Kamis, 12/12/2019 13:32 WIB
Kapal Wisata Ilegal di Labuan Bajo Gerus Pendapatan Daerah Pemda Manggarai Barat, NTT, mengecam aktivitas kapal wisata ilegal di perairan Labuan Bajo. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah berupaya memberantas kapal wisata ilegal yang berlayar di perairan Labuan Bajo. Sebab, aktivitas kapal ilegal itu membuat pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata tidak optimal.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat Augustinus Rinus mengungkapkanhampir 500 unit kapal pinisi yang menawarkan layanan menginap di atas kapal. Kapal wisata, sambungnya, menjadi pilihan menginap bagi turis asing yang ingin mencari pengalaman tidur di atas kapal dengan harga yang murah.

"Wisatawan kami datang, menuju kapal, dan mereka tidur di sana," jelas Augustinus di Manggarai Barat pada awal pekan ini.


Sayangnya, hingga kini, baru 300 kapal yang memenuhi kewajibannya sesuai ketentuan pemda, misalnya yang terkait pembayaran pajak, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) maupun keberadaan kantor. Jumlah itu sudah meningkat dari hasil inspeksi mendadak (sidak) sebelumnya yang hanya menemukan 56 kapal yang terdaftar.

"Setelah kami melakukan berbagai penertiban, kami mewajibkan mereka berkantor di Labuan Bajo dan membayar PNBP. Itu sudah hampir 300 (unit kapal yang patuh) sampai dengan hari ini," ucapnya. 

Keberadaan kapal ilegal membuat laju perekonomian daerah kurang optimal. Sebagai catatan, tahun lalu, penerimaan dari sektor pariwisata setempat mencapai Rp34,7 miliar atau sekitar 39 persen dari total PAD. Padahal, Augustinus memperkirakan potensi PAD dari sektor pariwisata bisa mencapai Rp2,3 triliun.

Karenanya, ia menegaskan pemilik kapal harus mematuhi kewajibannya terhadap pemda. Jika tidak, kapal harus hengkang dari perairan Labuan Bajo.

Kerek Kualitas SDM

Selain penertiban kapal wisata, pemda juga ingin meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat lokal di sektor pariwisata. Saat ini, sebagian kebutuhan tenaga kerja dipasok oleh warga pendatang.

"Kami sekarang coba dorong (SDM). Kami kerja sama dengan universitas, Politeknik Labuan Bajo itu dalam rangka pengembangan sumber daya manusia masyarakat Manggarai Barat ," ujarnya.

Menurut Augustinus, persoalan kualitas SDM penting untuk diperhatikan. Jika tidak, warga lokal bisa menjadi penonton di daerahnya sendiri.

"Diperkirakan hampir 50 hingga 60 persen tenaga kerja kami bekerja di sektor pariwisata. Ke depan, kalau bisa sampai dengan 70 persen," jelasnya.

Terlebih, pengembangan sektor pariwisata terus digenjot di mana pada 2025 jumlah wisatawan yang berkunjung ke Manggarai Barat ditargetkan mencapai 550 ribu hingga 1 juta pengunjung. Sebagai pembanding, tahun lalu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Manggarai Barat baru 168,8 ribu pengunjung, naik 46,6 persen dari tahun sebelumnya. 

[Gambas:Video CNN] (sfr)