Secara total, potensi investasi asing yang tersendat mencapai Rp700 triliun. Ini artinya, sisa potensi investasi yang masih harus diselesaikan masih sekitar Rp580 triliun.
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan penyelesaian investasi Rp120 triliun itu di antaranya berasal dari PT Lotte Chemical Indonesia yang sudah siap menanamkan dana sekitar US$800 juta-US$900 juta. Angka itu setara dengan 11,2 triliun-Rp12,6 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyatakan hambatan utama ketiga investasi ini masuk ke Indonesia adalah izin dan regulasi di dalam negeri. Lotte Chemical, misalnya, investasinya bermasalah karena perusahaan berniat membangun industrinya di atas lahan milik PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.
"Ketika kami masuk 14 hari kerja adalah bagaimana menyelesaikan persoalan ini, dan ini terselesaikan sebelum Pak Presiden (Joko Widodo) mengikuti KTT ASEAN-RoK di Busan kemarin," jelas Bahlil.
"Saya menghadap Pak Presiden, saya bilang ini penting. Jangan dilihat dari US$1,5 miliar-nya tapi dari kepercayaan Hyundai kepada Indonesia. Dampaknya bisa jadi promosi di dunia," imbuhnya.
Sementara itu, Bahlil menargetkan sisa potensi investasi yang masih tersendat akan selesai pada akhir tahun depan. Ia bilang penyelesaiannya akan menunggu rancangan undang-undang (ruu) hasil penyatuan sejumlah aturan (omnibus law) disahkan.
"Ini kan masih harus dibedah, persoalannya apa. Kalau masalahnya rencana tata ruang wilayah (RTRW) itu kaitannya dengan peraturan daerah (perda)," tutur Bahlil.
[Gambas:Video CNN]
Persoalan perda, sambung Bahlil, hanya bisa diselesaikan jika ruu omnibus law sudah rampung. Dalam hal ini, pemerintah pusat bisa mengontrol perda yang bertentangan dengan investasi.
"Jadi Perda akan diperbaiki, metode perbaikannya bagaimana tunggu teknisnya," jelas Bahlil.
Diketahui, pemerintah berencana memberikan draft ruu omnibus law kepada DPR sebelum reses 18 Desember 2019 mendatang. Bahlil berharap draft aturan itu bisa disahkan pada Januari 2020. (aud/aud)