Ikuti Mata Uang Asia, Rupiah Naik ke Rp13.988 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 18/12/2019 16:51 WIB
Ikuti Mata Uang Asia, Rupiah Naik ke Rp13.988 per Dolar AS Rupiah menguat ke RpRp13.988 pada Rabu (18/12) sore. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rupiah berada pada posisi Rp13.988 per dolar AS pada Rabu (18/12) sore. Posisi tersebut menguat sebesar 0,06 persen dibandingkan nilai pada penutupan perdagangan pada Selasa (17/12).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.007 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi Selasa (17/12), yang di Rp14.018 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat, lira Turki melemah 0,23 persen, won Korea 0,22 persen, dolar Taiwan 0,16 persen, dan rupee India 0,13 persen.


Pelemahan juga terjadi pada peso Filipina sebesar 0,08 persen, dan dolar Singapura sebesar 0,04 persen. Sementara itu, penguatan hanya terjadi pada Ringgit Malaysia sebesar 0,11 persen, baht Thailand 0,10 persen, serta yen Jepang sebesar 0,04 persen.

Untuk dolar Hong Kong dan yuan China tak bergerak terhadap dolar AS.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar terpantau melemah terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,26 persen, dan euro melemah dengan nilai 0,16 persen, serta dolar Kanada sebesar 0,04 persen diikuti dolar Australia yang melemah sebesar 0,07 persen.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah disebabkan oleh sentimen positif dari kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan mereka. Kabar tersebut menopang pergerakan rupiah hingga menguat.

"Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan menegaskan bahwa suku bunga akan ditahan kecuali jika ada perubahan besar dalam prospek ekonomi AS," kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia, Rabu (18/12).
[Gambas:Video CNN]
Menurut Ibrahim, pernyataan Dallas kemungkinan bersifat tetap. Dengan prediksi bahwa sektor manufaktur AS akan tertekan tahun depan, ditambah ekonomi global yang tumbuh lesu, serta  tren investasi yang melambat semakin membuka ruang bagi The Fed untuk tetap mempertahankan kebijakan suku bunga acuan mereka.
Selain faktor tersebut, Ibrahim mengatakan sentimen positif juga datang dari euforia pasar atas perjanjian perdagangan AS-China. Namun, Ibrahim menilai sentimen tersebut mulai memudar di pasar.

Ibrahim memperkirakan rupiah melanjutkan penguatannya pada Kamis (19/12) besok ke kisaran level Rp13.954 hingga Rp12.000 per dolar AS.

(ara/agt)