Sri Mulyani Ramal Ekonomi RI 2019 Melambat Jadi 5,05 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 06:08 WIB
Sri Mulyani Ramal Ekonomi RI 2019 Melambat Jadi 5,05 Persen Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu melambat hanya 5,05 persen. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu melambat hanya 5,05 persen. Angka itu di bawah target pertumbuhan ekonomi 2019 yang sebesar 5,3 persen dan realisasi 2018 lalu sebesar 5,17 persen.

Sri Mulyani menyatakan pertumbuhan ekonomi domestik dipengaruhi oleh kondisi global yang juga melambat. Hal itu disebabkan oleh sejumlah sentimen, seperti perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), hingga pemakzulan Presiden AS Donald Trump.

Ia bilang perlambatan ekonomi global membuat bank sentral di sejumlah negara memperlonggar kebijakan moneter. Selain itu, pemerintah juga membuat kebijakan fiskal yang ekspansif untuk mempertahankan ekonomi negaranya masing-masing.


"Dari kondisi itu pada 2019 lingkungan makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berubah dari target 5,3 persen mungkin realisasi 5,05 persen," ucap Sri Mulyani, Selasa (7/1).

Kemudian, inflasi juga diramalkan sebesar 2,72 persen dari target 3,5 persen. Lalu, surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan sebesar 5,6 persen atau naik dari asumsi 5,3 persen.

"Kalau dilihat memang lebih rendah, inflasi rendah, komoditas melemah," imbuh dia.

Sri Mulyani memandang ketidakpastian ekonomi masih menghantui Indonesia tahun ini. Masalahnya, sejumlah sentimen seperti perang dagang hingga yang terbaru konflik di Timur Tengah juga terus bergerak dinamis.

"Tentu juga masih ada risiko untuk outlook 2020," jelas Sri Mulyani.

Diketahui, konflik antara AS dengan Iran kini semakin memanas. Trump sebelumnya telah memerintahkan serangan pesawat tidak berawak di Baghdad dan menewaskan komandan militer Iran Qassem Soleimani pada pekan lalu.

Akibatnya, ketegangan antara kedua negara itu meningkat. Para pemimpin Iran pun berjanji untuk membalas pembunuhan tersebut.

[Gambas:Video CNN] (aud/age)