Percuma Fintech Bakar Uang Kalau Konsumen Tak Setia

Agnes Savithri, CNN Indonesia | Jumat, 17/01/2020 15:39 WIB
Bejibun tawaran cashback dari fintech untuk gunakan e-money. (CNN Indonesia/Eka Santhika Parwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia -- "Banyak tawaran cashback (pengembalian uang) dari e-money (uang elektronik). Akhirnya, bikin semua akun," curhat Asteria, salah satu konsumen.

Tawaran cashback cukup menggiurkan Asteria hingga akhirnya ia memiliki empat e-money sekaligus. Alasannya sederhana, demi menikmati momentum 'bakar duit' para pelaku usaha e-money.

Walaupun, ketika ditanya sampai kapan akan menggunakan keempat e-money itu, Asteria tak menjawab pasti. "Pasti akan mengurangi dua dari 4 e-money sekarang. Sambil menunggu yang mana yang mulai sedikit memberi promo atau cashback," jelasnya.

Cerita senada datang dari konsumen lain, Surya. Karyawan swasta ibu kota tersebut mengaku ketergantungan menggunakan ojek online (ojol). Nah, untuk memudahkan mobilitas sehari-hari bersama ojol, ia memilih dua e-money yang terhubung dengan aplikasi transportasi daring itu.

"Belum tahu nih bakal terus pakai yang mana. Sementara sih, pakai yang lagi banyak kode promo saja," ungkap Surya.

Cashback memang menjadi fenomena sejak kehadiran e-money dalam 4 tahun-5 tahun terakhir. Tidak cuma di ibu kota, tetapi juga kota-kota besar lainnya.

Tengok saja, jika Anda berjalan ke satu pusat perbelanjaan (mal), tidak jarang papan bertuliskan diskon dengan angka ciamik menghias halaman muka restoran dan tempat jajan. Padahal, gimmick diskon atau cashback itu diiringi sederet syarat dan ketentuan.

Jika Anda kurang jeli melihat syarat dan ketentuan tersebut, kedok diskon atau cashback 'selangit' ternyata cuma 'janji surga.' Pun demikian, tidak dapat dipungkiri iming-iming diskon selangit berhasil membuat konsumen merogoh kocek mereka.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan volume transaksi uang elektronik hingga akhir 2018 meroket 209,8 persen menjadi 2,9 miliar transaksi. Hingga Juli 2019, angka transaksinya bahkan nyaris menyamai sepanjang tahun lalu dengan total transaksi 2,7 miliar.

Secara nilai, transaksi uang elektronik mencapai Rp47,2 triliun per 2018. Per Juli 2019, nilai transaksi ini tembus Rp69 triliun.

Riset iPrice bersama App Annie memprediksi transaksi e-money bisa menyentuh US$25 miliar atau Rp350 triliun pada 2023 mendatang. Potensi transaksi ini memperhitungkan penetrasi internet yang baru 32,3 persen dan pasar ponsel pintar (smartphone) sebesar 40 persen.

Peningkatan transaksi boleh dibilang tak terlepas dari banyaknya promo dan cashback yang diberikan penyelenggara demi memanjakan konsumen. Tak cuma itu, ruang untuk berkembangnya digital payment, khususnya e-money, masih sangat luas.

Data iPrice per 12 Agustus 2019 melansir tiga pemain e-money besar dengan pengguna terbanyak masih diduduki oleh pemain lokal, yaitu Go-Pay, OVO, DANA.

Pertanyaannya, sampai kapan para e-money akan 'bakar uang' menggunakan cashback untuk menggaet konsumen?
[Gambas:Video CNN]
Gaet Konsumen Loyal

Head of Corporate Communications GoPay Winny Triswandhani mengakui semua orang menyukai apapun yang berhubungan dengan promosi. Ia menilai promosi dengan menawarkan cashback merupakan usaha yang wajar.

"Promosi merupakan hal wajar dilakukan di segala jenis usaha maupun skala bisnis. Begitu juga di Go-Pay, kami menerapkan promosi untuk mendorong pengguna baru yang awalnya menggunakan cash (tunai) untuk mencoba Go-Pay agar bisa bertransaksi nontunai yang lebih praktis dan efisien," imbuh dia.

Itu pun, lanjut Winny, tak cuma menyasar pengguna di perkotaan yang terbiasa dengan transaksi nontunai, melainkan seluruh lapisan konsumen. "Tantangan mengedukasi sektor ini cukup signifikan karena mereka sangat terbiasa bertransaksi tunai, malah banyak yang belum tersentuh jasa keuangan formal (belum memiliki rekening bank)," paparnya.

Managing Director OVO Harianto Gunawan mengakui cashback menjadi salah satu cara untuk mengedukasi pengguna agar mau menggunakan layanan mereka. Selanjutnya, ia akan mendengarkan kebutuhan konsumen untuk menggaet konsumen setia.

"Di era yang serba cepat, demand (permintaan) dari pasar dan konsumen juga dengan cepat berganti, sehingga kami sebagai perusahaan teknologi harus segera beradaptasi dan mengikuti layanan yang dibutuhkan oleh konsumen," ujarnya.

Chief Communication Officer DANA Chrisma Albandjar pun memaparkan konsep cashback merupakan bentuk edukasi. Bukan program bakar duit. Pasalnya, poin terpenting dalam perusahaan teknologi adalah pengalaman sehingga cashback digunakan untuk menarik pelanggan agar mencoba aplikasi tersebut.

"Cashback itu jangan dibilang bakar duit. Uang kalau dibakar jadi abu. Kalau cashback itu biar pelanggan ada experience (pengalaman). Kalau nyaman cashless ya, apakah mereka akan stay? atau tidak?," terang dia.

Chrisma menilai dengan uang tunai yang lebih mahal karena pemerintah harus mencetak uang, opsi cashless dengan e-money bisa menjadi solusi. Ia yakin jika cashback ditarik atau dihentikan, dan perusahaan sudah mendapatkan kepercayaan pelanggan, nantinya akan muncul konsumen setia.

"Makanya, kami memberikan cashback per merchant itu satu kali dalam setiap pekan. Dengan harapan, mereka akan terus menerus menggunakan DANA," ujar Chrisma.


Kans Industri e-Money

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2