Tumbuh 6,1 Persen, Laju Ekonomi China Terendah Sejak 1990

CNN Indonesia | Sabtu, 18/01/2020 15:21 WIB
Tumbuh 6,1 Persen, Laju Ekonomi China Terendah Sejak 1990 Ekonomi China tumbuh 6,1 persen pada 2019, terendah dalam hampir tiga dekade terakhir. (AP Photo/Andy Wong).
Jakarta, CNN Indonesia -- China mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1 persen sepanjang 2019. Realisasi tersebut terendah sejak 1990 atau 29 tahun terakhir.

Dilansir dari CNN, Jumat (17/1), Biro Statistik Nasional China (NBS) mencatat laju ekonomi China tahun lalu melambat dibandingkan 2018, 6,6 persen. Namun, angka tersebut masih sesuai ekspektasi.

Khusus kuartal IV 2019, perekonomian China tumbuh 6 persen atau sama dengan laju kuartal sebelumnya.


China saat ini memang menghadapi sejumlah persoalan ekonomi mulai dari meningkatnya tingkat utang, melemahnya permintaan domestik dan imbas dari perang dagang dengan AS.

Tensi perang dagang mulai mereda setelah AS dan China menandatangani kesepakatan perdagangan fase I pada pekan ini. Penandatangan tersebut diyakini akan mengurangi ketegangan meski untuk jangka pendek.

Kepala Badan Statistik Nasional China Ning Jizhe menilai kesepakatan awal itu akan mengerek optimisme pasar terhadap laju ekonomi Negeri Tirai Bambu.

Ia menambahkan kesepakatan tersebut akan mempererat hubungan ekonomi antara China dan AS. Sebagai catatan, melalui kesepakatan tersebut, China menyetujui untuk membeli beragam produk impor AS senilai ratusan miliar dolar AS.

Sebaliknya, AS juga menunda pengenaan sejumlah tarif pada tarif impor China, terutama pada barang elektronik. Sedianya, tarif impor itu akan dikenakan pada Desember 2019.

Melihat hal itu, Ning memperkirakan perekonomian China akan stabil pada tahun ini. Terlebih, China akan mengambil langkah yang diperlukan jika menghadapi tekanan perlambatan, di luar stimulus yang sudah dijalankan.

Pada Rabu (15/1) lalu, Wakil Perdana Menteri China Liu He menyampaikan rasa optimismenya terhadap perekonomian China. Pernyataan itu ia sampaikan di sela penandatangan kesepakatan dengan AS di Washington, AS.

Liu He juga menyatakan China, saat ini, mengurangi ketergantungan pada utang dan terus meningkatkan perekonomiannya dengan inovasi.

Analis menilai kesepakatan perdagangan itu akan menambah kepercayaan pasar. Sinyal itu telah disampaikan oleh Lembaga Pemeringkat Fitch Ratings dengan mengerek proyeksi pertumbuhan ekonomi China tahun ini dari 5,7 persen menjadi 5,9 persen.

Jeffrey Halley, analis pasar senior untuk Asia Pasific Oanda, juga memperkirakan ekonomi China mulai bangkit tahun ini. Proyeksi itu berdasarkan data penjualan ritel China pada Desember lalu yang di atas ekspektasi pasar.

Kendati demikian, analis Capital Economics menilai masih terlalu dini untuk menganggap perekonomian China akan kembali melaju kencang.

"Kami pikir masih terlalu dini untuk menganggap (kinerja ekonomi 2019) sebagai titik terendah pada siklus ekonomi saat ini meski ada peningkatan kegiatan ekonomi baru-baru ini," ujar Capital Economics dalam risetnya yang dilansir dari CNN.

Dalam riset tersebut, CE menilai penandatangan kesepakatan dagang tak akan mampu mengimbangi dampak dari perlambatan pertumbuhan permintaan domestik.

[Gambas:Video CNN] (sfr/agt)