Dilansir dari CNN, Jumat (17/1), Biro Statistik Nasional China (NBS) mencatat laju ekonomi China tahun lalu melambat dibandingkan 2018, 6,6 persen. Namun, angka tersebut masih sesuai ekspektasi.
Khusus kuartal IV 2019, perekonomian China tumbuh 6 persen atau sama dengan laju kuartal sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan kesepakatan tersebut akan mempererat hubungan ekonomi antara China dan AS. Sebagai catatan, melalui kesepakatan tersebut, China menyetujui untuk membeli beragam produk impor AS senilai ratusan miliar dolar AS.
Sebaliknya, AS juga menunda pengenaan sejumlah tarif pada tarif impor China, terutama pada barang elektronik. Sedianya, tarif impor itu akan dikenakan pada Desember 2019.
Lihat juga:Sektor Pertanian Dorong IHSG ke Level 6.291 |
Pada Rabu (15/1) lalu, Wakil Perdana Menteri China Liu He menyampaikan rasa optimismenya terhadap perekonomian China. Pernyataan itu ia sampaikan di sela penandatangan kesepakatan dengan AS di Washington, AS.
Liu He juga menyatakan China, saat ini, mengurangi ketergantungan pada utang dan terus meningkatkan perekonomiannya dengan inovasi.
Analis menilai kesepakatan perdagangan itu akan menambah kepercayaan pasar. Sinyal itu telah disampaikan oleh Lembaga Pemeringkat Fitch Ratings dengan mengerek proyeksi pertumbuhan ekonomi China tahun ini dari 5,7 persen menjadi 5,9 persen.
Kendati demikian, analis Capital Economics menilai masih terlalu dini untuk menganggap perekonomian China akan kembali melaju kencang.
"Kami pikir masih terlalu dini untuk menganggap (kinerja ekonomi 2019) sebagai titik terendah pada siklus ekonomi saat ini meski ada peningkatan kegiatan ekonomi baru-baru ini," ujar Capital Economics dalam risetnya yang dilansir dari CNN.
Dalam riset tersebut, CE menilai penandatangan kesepakatan dagang tak akan mampu mengimbangi dampak dari perlambatan pertumbuhan permintaan domestik.
[Gambas:Video CNN] (sfr/agt)