Gara-gara Minyak, IMF Ramal Kekayaan Negara Teluk Habis 2034

CNN Indonesia | Jumat, 07/02/2020 14:25 WIB
Gara-gara Minyak, IMF Ramal Kekayaan Negara Teluk Habis 2034 IMF mengimbau negara di kawasan Timur Tengah mempercepat reformasi ekonomi di tengah proyeksi penurunan permintaan minyak global. (IAN TIMBERLAKE / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan kekayaan negara-negara di kawasan Teluk Persia Timur Tengah akan tergerus dalam 15 tahun ke depan. Sebab, permintaan minyak global diprediksi akan merosot dalam jangka panjang.

Beberapa negara di kawasan Teluk Persia di antaranya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Yemen, Kuwait, Qatar dan Bahrain.

"Pada posisi fiskal saat ini, kekayaan kawasan (Teluk) akan habis pada 2034," ujar IMF dalam studi "Masa Depan Minyak dan Keberlanjutan Fiskal" di kawasan, yang dikutip dari AFP, Jumat (7/2).


Selama hampir dua dekade terakhir, kekayaan negara kawasan Timur Tengah memang banyak bersumber dari minyak. Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) mencatat kawasan memasok seperlima pasokan dunia.

Penerimaan dari minyak menyumbang sekitar 70 hingga 90 persen dari total pemasukan negara.

Namun, penurunan harga minyak pada pertengahan 2014, menggerus penerimaan kawasan dan mendorong mereka berutang untuk membiayai defisit anggaran.

Tercatat, utang GCC melonjak dari sekitar US$100 miliar pada 2014 ke hampir US$400 miliar pada 2018.

Laju ekonomi juga ikut terseret. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan Teluk cuma 0,7 persen pada 2019 atau merosot dari tahun sebelumnya 2 persen. Padahal, sebelum harga minyak anjlok, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 4 persen.

[Gambas:Video CNN]

"Proyeksi ini berarti tantangan keberlanjutan fiskal yang signifikan untuk kawasan GCC," terang IMF.

Melihat risiko penurunan permintaan minyak, IMF menyarankan kawasan untuk mempercepat reformasi ekonomi yang lebih luas. Dengan demikian, kawasan bisa terhindar dari risiko utang yang membengkak dan beradaptasi terhadap kombinasi penurunan permintaan dan harga jangka panjang.

(AFP/sfr)