Hal tersebut telah disepakati dalam rapat Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) seperti disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo, Kamis (13/2).
Ia menuturkan TPIP telah memperhitungkan risiko kemunculan virus corona. "Saat kami hitung proyeksi inflasi tadi, kami sudah perhitungkan risiko yang muncul menekan inflasi, baik itu isu global seperti virus, harga komoditas global naik, itu sudah dihitung," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2019, inflasi IHK tercatat sebesar 2,72 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka itu berada dalam sasaran pemerintah, yakni 3,5 persen plus minus satu persen.
"Indonesia adalah negara yang sering mengalami gangguan cuaca, makanya volatile food selalu bergejolak. Itu alasan kami mengendalikan volatile food," paparnya.
Untuk menjaga inflasi volatile food, ia bilang pemerintah akan menjaga disparitas harga antar waktu dan tempat. Maksudnya adalah pemerintah akan mengantisipasi perbedaan harga yang tajam antara musim panen dan musim paceklik.
[Gambas:Video CNN]
Sebagaimana diketahui, harga bahan pangan di musim panen cenderung lebih murah karena pasokan berlebih. Sebaliknya, harga bahan pangan menjadi selangit ketika musim paceklik akibat kelangkaan pasokan.
Pemerintah juga akan menjaga disparitas harga antar tempat. Sebab, harga pangan di tempat dengan ketersediaan berlebih biasanya lebih murah, sedangkan di wilayah yang mengalami kelangkaan bahan pangan lebih mahal.
"Ini juga menjadi perhatian pemerintah dan BI dalam rangka pengendalian harga. Jadi bukan hanya terbatas pada tempat tapi juga antar waktu," katanya. (ulf/bir)