Harga Minyak RI Amblas ke US$34,23 per Barel pada Maret 2020

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 14:07 WIB
Rata-rata harga minyak Indonesia (ICP) merosot 39,5 persen menjadi US$34,23 per barel pada Maret 2020 karena pandemi virus corona. Rerata harga minyak Indonesia (ICP) Maret 2020 anjlok ke US$34,23 per barel. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian ESDM mencatat rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada Maret 2020 sebesar US$34,23 per barel atau anjlok 39,5 persen dari rerata Februari, US$56,61 per barel.

Penurunan besar-besaran juga terjadi pada ICP SLC sebesar US$ 21,40 per barel dari US$ 57,18 per barel pada Februari 2020 menjadi US$ 35,78 per barel.

Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan, penurunan harga rata-rata ICP bulan Maret 2020 ini sejalan dengan perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional.


Beberapa faktor yang memengaruhi, antara lain penetapan Covid-19 sebagai pandemi oleh WHO, serta penyebarannya yang semakin meluas mengakibatkan pemberlakuan penutupan akses keluar masuk (lockdown) di sebagian besar negara konsumen minyak mentah.

"Selain itu, travel restriction di mayoritas negara di dunia sehingga mengakibatkan penurunan drastis permintaan minyak mentah secara global," jelas Tim Harga Minyak Indonesia dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (2/4).

Penyebab lainnya adalah keputusan Arab Saudi menurunkan harga jual minyak mentah untuk merebut pangsa pasar. Pelaku pasar juga khawatir risiko kelebihan pasokan (over supply) setelah Arab Saudi berencana mengerek produksi setelah Rusia menolak bergabung dalam rencana tambahan pemotongan produksi OPEC+.

"Faktor lainnya, perang harga antara Arab Saudi dan Rusia sebagai produsen-produsen utama minyak mentah di dunia, yang menjadi salah satu faktor penyebab over supply minyak mentah secara global," papar Tim Harga.

Penurunan harga minyak mentah di pasar internasional juga disebabkan oleh proyeksi OPEC terkait pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,4 persen menjadi 0,6 persen karena melemahnya perekonomian sejumlah negara maju dan wabah virus corona.

Selain itu, OPEC juga memangkas proyeksi permintaan minyak mentah global tahun ini dari 100,73 juta barel per hari (bph) menjadi 99,73 juta bph.

Pemangkasan proyeksi permintaan minyak mentah global juga dilakukan Badan Energi Internasional (IEA) sebesar 1,1 juta bph menjadi 99,9 juta bph.

Terakhir, Energy Information Administration (EIA) melaporkan peningkatan stok minyak mentah AS pada Maret 2020 sebesar 11,3 juta barel menjadi sebesar 455,4 juta barel dibandingkan bulan Februari 2020.

Di kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah selain dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut, juga disebabkan oleh penurunan proyeksi pertumbuhan GDP 2020 menjadi sebesar 5 persen di China dan 5,2 persen di India karena wabah virus corona.

Kemudian, berkurangnya crude oil throughput kilang-kilang di Jepang sebesar 2,81 juta barel per hari dibandingkan kapasitas kilang sebesar 3,52 juta barel per hari di akhir Maret 2020 juga berdampak pada merosotnya harga.

"Selain itu, kilang-kilang di Korea Selatan mengurangi konsumsi minyak mentah AS dan beralih ke minyak mentah Timur Tengah seiring berkurangnya spread WTI-Dubai serta discount harga minyak mentah Timur Tengah," jelasnya.

Berikut perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada Maret 2020 dibandingkan Januari 2020:
- Dated Brent turun 42,58 persen menjadi US$31,83 per barel
- WTI (Nymex) turun 39,75 persen menjadi US$30,45 per barel
- Basket OPEC turun 37,89 persen menjadi US$34,46 per barel
- Brent (ICE) turun 39,2 persen menjadi US$33,73 per barel.

[Gambas:Video CNN]


(sfr/bir)