Ayah dari Nashira Bachrain yang selalu tertarik dengan sisi-sisi humanis di balik fenomena keseharian. Sejak kali pertama berkarier di harian olahraga TopSkor, penulis menceburkan diri dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola. CNNIndonesia.com kini menjadi tantangan selanjutnya.
KOLOM
PSBB Tak Laku 'Diobral' di Pasar Tradisional, Pak Anies
Ahmad Bachrain | CNN Indonesia
Rabu, 15 Apr 2020 19:26 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tak laku 'diobral' di pasar tradisional, Pak Gubernur Anies Baswedan.Bukan. Kalimat itu bukan sebagai ekspresi pembangkangan, apalagi coba-coba menantang darurat virus corona (covid-19). Tapi demikian kenyataan di lapangan, geliat ekonomi lapisan bawah.
Pasar-pasar tradisional seperti Pasar Kebayoran Lama berjalan seperti biasanya selama penerapan PSBB Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam benak saya, mungkin yang belanja jauh tak seramai hari-hari biasa. Mungkin saya satu dari banyak warga yang sempat ragu ke pasar selama pandemi covid-19.
Salah seorang pembeli dan penjual yang tak mengenakan masker di lapak Pasar Kebayoran Lama. (CNN Indonesia/Ahmad Bachrain). |
Saya sempat mengecek situs di PD Pasar Jaya sekira dua hari sejak pemberlakuan PSBB. Di situs itu terdapat kontak sejumlah pelapak di Pasar Kebayoran Lama.
Tujuannya agar para pembeli tak perlu keluar rumah pergi ke pasar. Cukup menelepon atau kirim pesan WhatsApp kepada pedagang untuk memesan dagangan yang diinginkan.
Dagangan akan dikirimkan ke rumah masing-masing melalui hantaran dari petugas di pasar tersebut.
Lihat juga:Bisnis Pinjol Mulai Kering Karena Corona |
Saat mengecek laman di situs tersebut, daftar para pedagang beserta nomor telepon yang tertera di sana hanya sekitar 25 orang. Padahal, ada ratusan pelapak besar dan kecil di sana.
Sulit juga membayangkan segelintir pelapak itu jika harus melayani ribuan orang yang saban siang dan malam belanja di sana via pesanan jarak jauh.
Empat hari setelah pemberlakuan PSBB, saya pun memutuskan langsung pergi ke pasar Kebayoran Lama pada dini hari untuk belanja bahan-bahan untuk dimasak.
Tak lupa, saya mematuhi aturan pemerintah dengan memakai masker, bakal jaga jarak, bahkan pakai jaket tebal. Tak lupa pula harus cuci tangan, bahkan mandi setelah sampai rumah. Pokoknya benar-benar harus disiplin ketat.
Sebelum menunggangi motor untuk ke pasar, saya sempat membayangkan semua pembeli maupun pedagang akan seperti saya: sadar prosedur darurat covid-19.
Suasana aktivitas pedagang sayur pada malam hari di Pasar Kebayoran Lama. (CNN Indonesia/Ahmad Bachrain). |
Rupanya ada kesenjangan antara pikiran dan kenyataan. Pasar masih tetap ramai. Mungkin hanya berkurang sedikit hiruk-pikuknya.
Para pembeli yang berjejal melewati jalur di blok-blok pasar maupun lapak emperan, masih bisa dijumpai. Dari blok utara hingga selatan, bahkan di bawah fly-over Jalan Raya Ciledug, tetap cukup padat.
Jaga jarak minimal satu meter? Jauh dari harapan.
Lihat juga:Corona, UMKM Bebas Pajak Selama 6 Bulan |
Sejumlah pengunjung maupun pembeli memang ada yang mengenakan masker. Namun, tak sedikit yang tidak menggunakannya.
"Ngapain repot-repot pakai masker. Mati ya, mati aja lah," demikian ujar seorang pria paruh baya kepada rekannya sesama penjual yang sempat saya dengar.
Lapak penjual daging di Pasar Kebayoran Lama. (CNN Indonesia/Ahmad Bachrain). |
Tiada pula tempat-tempat untuk mencuci tangan dengan sabun. Mulai dari blok sebelah utara, hingga selatan sampai di bawah fly-over jalan Ciledug Raya, tak ditemui tempat cuci tangan.
Tak Ada Istilah Libur
Pasar Kebayoran Lama tetap beraktivitas seperti biasanya. Tak pernah beristirahat saban siang, malam, pagi, hingga bersua siang lagi. Selalu bergeliat di tengah darurat virus corona.
Bagi para pedagang, tak ada istilah libur demi dapurnya tetap mengepul.
"Corona ya, corona. Biar aja. Kita tetap cari duit. Memang siapa yang mau menanggung hidup kalo bukan kita sendiri," demikian ujar salah satu pedagang jamur dan sayuran yang duduk bersila di lapaknya tanpa mengenakan masker.
"Paling kalau lagi corona begini, yang susah itu dapet jamur-jamur impor dari China atau Jepang," dia menambahkan.
"Masih ke pasar, bu? Enggak khawatir corona? Kan sudah bisa pesan dari situs PD Pasar Jaya," ujar saya kepada salah seorang pembeli sekadar iseng belaka.
"Ah, mana paham saya, mas. Lagian kalau belanja langsung begini kan masih bisa pilih-pilih sendiri daging, ikan, sayur atau bumbu-bumbu dapur yang cakep-cakep. Corona biarin aja lah. Pasrah aja sama yang di atas (Tuhan)," sahut sang ibu paruh baya itu.
(CNNIndonesia/Basith Subastian). |
Memang, tidak semua lapisan masyarakat paham betul cara untuk berbelanja online sekarang macam generasi milenial.
Belum lagi, para pembeli banyak juga sudah memiliki langganan di pasar. Sementara di situs PD Pasar Jaya, hanya sekira 25 pedagang yang terdaftar. Angka itu jauh dari kenyataan di lapangan.
Tampak tak terlihat sedikitpun wajah-wajah cemas dari para pengunjung, apalagi pelapak pasar.
Sesekali saya mencuri dengar obrolan di antara para penghuni pasar bahwa ada pedagang tahu yang meninggal di lapaknya beberapa pekan lalu. Tak diketahui pasti penyebab meninggalnya. Dugaan sementara karena sakit jantung.
Porsi darurat corona juga hanya tipis sekali dibahas dalam perbincangan itu. Lagi-lagi, darurat Covid-19 seolah absen di pasar tradisional.
Realitas ruang publik di lapisan bawah seperti di pasar tradisional menyibak betapa kurang efektif penerapan PSBB. Tolong Pak Anies, darurat virus corona tak laku 'diobral' di pasar tradisional yang kerap saya kunjungi. (asa)
Salah seorang pembeli dan penjual yang tak mengenakan masker di lapak Pasar Kebayoran Lama. (CNN Indonesia/Ahmad Bachrain).
Suasana aktivitas pedagang sayur pada malam hari di Pasar Kebayoran Lama. (CNN Indonesia/Ahmad Bachrain).
Lapak penjual daging di Pasar Kebayoran Lama. (CNN Indonesia/Ahmad Bachrain).
(CNNIndonesia/Basith Subastian).