Neraca Dagang RI Defisit US$350 Juta Pada April 2020

CNN Indonesia
Jumat, 15 Mei 2020 09:47 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara,  Rabu (5/9). Menurut pekerja, dampak kenaikan nilai kurs dolar AS yang tembus Rp.15.000 saat ini tidak terlalu berpengaruh dalam aktivitas bongkar muat ekspor/impor di JICT. Memperkuat produksi dalam negeri untuk ekspor merupakan salah satu langkah penguatan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap nilai kurs dolar yang mencapai Rp. 15.000 saat ini. BPS mencatat neraca perdagangan RI defisit US$350 juta pada April, berbanding terbalik dari posisi bulan sebelumnya yang surplus US$743 juta. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit US$350 juta secara bulanan pada April 2020 di tengah wabah virus corona atau covid-19. Posisi ini berbanding terbalik dari Maret 2020 yang surplus US$743 juta.

Jika diakumulasi, neraca perdagangan pada Januari-April 2020 tercatat surplus sebesar US$2,25 miliar. Posisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang defisit sebesar US$2,56 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$12,19 miliar. Sementara nilai impor lebih besar dibandingkan ekspor, yakni US$12,54 miliar.

"Meski defisit, tapi masih lebih baik dari prediksi awal. Ini juga karena beberapa harga komoditas turun, ekspor turun," ungkap Suhariyanto melalui video conference, Jumat (15/5).

Ia merinci total ekspor terdiri dari ekspor non minyak dan gas (migas) sebesar US$11,58 miliar atau turun 13,66 persen dari sebelumnya US$13,41 miliar pada Maret 2020. Sementara ekspor migas tercatat turun 6,55 persen dari US$650 juta menjadi US$610 juta.

Pelemahan ekspor nonmigas terjadi karena ekspor industri pertanian minus 6,1 persen menjadi US$280 juta secara bulanan. Sementara, kalau dilihat secara tahunan tercatat meningkat 12,66 persen.

"Sektor pertanian turun di antaranya untuk komoditas tanaman obat dan rempah-rempah," ujarnya.

Kemudian, nilai ekspor pertambangan turun 22,11 persen secara bulanan menjadi US$1,54 miliar. Lalu, ekspor industri pengolahan turun 12,26 persen menjadi US$9,76 miliar.

Jika ditotal, ekspor Januari-April 2020 sebesar US$53,95 miliar. Kinerja ini meningkat tipis 0,44 persen bila dibandingkan Januari-April 2019 sebesar US$53,72 miliar.

Dari sisi impor, impor migas sebesar US$850 juta atau turun 46,83 persen dari US$1,61 miliar. Sementara impor nonmigas senilai US$11,68 miliar atau turun 0,53 persen dari US$11,75 miliar. Kalau ditotal, nilai impor pada April 2020 minus 6,1 persen menjadi US$12,54 miliar.

Penurunan impor nonmigas berasal dari bahan baku/penolong turun 9 persen menjadi US$9,36 miliar. Hal yang sama terjadi pada impor barang konsumsi sebesar 4,03 persen menjadi US$1,22 miliar, sedangkan barang modal naik 9 persen menjadi US$1,96 miliar.

Secara kumulatif, kinerja impor Januari-April 2020 sebesar US$51,71 miliar atau terkoreksi 7,78 persen. Khusus impor nonmigas, turun 7,25 persen dari US$49,07 miliar menjadi US$45,51 miliar.

[Gambas:Video CNN]

(aud/bir)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER