Kepala BPS Suhariyanto memaparkan impor bahan baku/penolong anjlok 9 persen secara bulanan menjadi US$9,36 miliar. Kemudian, jika dilihat secara tahunan impor tersebut juga turun signifikan mencapai 19,13 persen.
Sementara, impor barang modal secara bulanan sebenarnya masih tumbuh 9 persen menjadi US$1,96 miliar. Namun, nilainya anjlok hingga 17,11 persen jika dihitung secara tahunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila dirinci, penurunan terjadi khususnya di impor migas yang mencapai 46,83 persen dari US$1,61 miliar menjadi US$850 juta. Kemudian, impor nonmigas minus 0,53 persen dari US$11,75 miliar menjadi US$11,68 miliar.
"Dari segi kode HS, barang impor yang turun adalah plastik dan barang dari plastik, kendaraan dan bagiannya, besi dan baja, senjata dan amunisi, serta logam mulia dan perhiasan," terang Suhariyanto.
"Impor dari China sudah mulai naik, ini membuktikan recovery (pemulihan) di China terbilang cepat," imbuh dia.
Rinciannya, impor dari China meningkat sebesar US$762,3 juta, Kanada US$84,1 juta, Brasil US$80,6 juta, Amerika Serikat (AS) 28,8 juta, dan Pantai Gading US$23,9 juta.
Sebaliknya, pengiriman barang impor justru turun dari Malaysia senilai US$155,3 juta, Hong Kong US$135,1 juta, Swiss US$120,4 juta, Thailand US$111,4 juta, dan India US$92,1 juta.
[Gambas:Video CNN]
(aud/bir)