Himbara ini terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Ketua Himbara sekaligus Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan mayoritas relaksasi diberikan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 1,56 juta nasabah dengan nilai restrukturisasi kredit sebesar Rp137,06 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Detailnya, nasabah kredit konsumer yang mendapatkan fasilitas restrukturisasi kredit sebanyak 157 ribu dengan nilai Rp26,31 triliun. Kemudian, Himbara memberikan restrukturisasi kepada 946 nasabah yang memiliki kredit wholesale dengan nilai Rp59,78 triliun.
Selanjutnya, Sunarso menjelaskan BRI sendiri telah memberikan fasilitas restrukturisasi kepada 1,41 juta nasabah yang terdampak pandemi. Total kredit yang direstrukturisasi sebesar Rp101,23 triliun.
[Gambas:Video CNN]
Ia menjelaskan perusahaan paling banyak memberikan keringanan kepada pelaku UMKM dengan jumlah nasabah sebanyak 1,38 juta dan nilai restrukturisasi sebesar Rp95,37 triliun. Sementara, nasabah non UMKM yang diberikan relaksasi sebanyak 24 ribu dengan nilai restrukturisasi Rp5,85 triliun.
Lebih lanjut Sunarso menyatakan bahwa perbankan membutuhkan banyak likuiditas untuk memberikan restrukturisasi kepada nasabah. Berdasarkan perhitungannya, Himbara membutuhkan likuiditas sebesar Rp192,6 triliun untuk pemberian relaksasi selama 12 bulan.
"Untuk penundaan pokok butuh Rp144 triliun dan penundaan atau pengurangan bunga sebesar Rp47 triliun," ujar Sunarso.
Kemudian, khusus BRI sendiri membutuhkan likuiditas sebesar Rp112 triliun untuk memberikan restrukturisasi dalam rentang waktu 1 tahun. Rinciannya, likuiditas yang dibutuhkan untuk relaksasi berupa penundaan pokok sebesar Rp91 triliun dan penundaan atau pengurangan bunga sebesar Rp21 triliun.