"Kita masih terpaut jauh dengan Malaysia, dengan produktivitas per pekerja sebesar US$60 ribu atau lebih dari dua kali lipat Indonesia," ujar Ma'ruf dalam sambutan virtual Dies Natalis UNJ, Sabtu (16/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data yang dihimpun APO mencatat Indonesia berada di urutan kelima dari sepuluh negara di ASEAN dalam hal produktivitas pekerja.
Prokontra program kartu prakerja. (CNN Indonesia/Timothy Loen) |
"Salah satu kriteria SDM unggul adalah tingkat produktivitas. Sayangnya ketika kita bicara produktivitas khususnya tenaga kerja kita bukan yg terbaik di Asean," tutur dia.
Lihat juga:Corona Buat Kinerja Sektor Properti Terpukul |
"SDM yang unggul adalah kunci untuk memenangkan persaingan global," pungkasnya.
Diketahui, tak hanya produktivitas namun juga soal pendidikan pun tertinggal dengan negara jiran itu.
Ma'aruf mengungkapkan bahwa berdasarkan data hasil survei yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2019 hanya 12, 27 juta orang yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi dari 126,57 juta penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas.
Selanjutnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengungkap upaya pemerataan dan perubahan pendidikan komunikasi jadi kunci utama yang harus diselesaikan.
Termasuk di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T), maupun di perkotaan. Namun kendala ketiadaan listrik masih dialami beberapa daerah.
Berdasarkan Global Talent Competitiveness Index (GTCI), Singapura memiliki nilai tertinggi di ASEAN yakni dengan skor 77,27.
Posisi kedua ditempati Malaysia dengan poin 58,62. Indonesia sendiri ada di posisi keenam dengan skor 38,61.
Indeks tersebut merupakan peringkat daya saing negara berdasarkan kemampuan SDM. Salah satu indikator indeks yakni pendidikan, infrastruktur, stabilitas politik hingga pendapatan per kapita.
[Gambas:Video CNN]
(ndn/evn)
Prokontra program kartu prakerja. (CNN Indonesia/Timothy Loen)