Ma'ruf Sebut Produktivitas Pekerja RI Jauh di Bawah Malaysia

CNN Indonesia | Sabtu, 16/05/2020 13:12 WIB
Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyampaikan keterangan kepada wartawan tentang penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Senin (23/3/2020). Wapres meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terkait jenazah pasien positif virus corona (COVID-19) yang meninggal dunia. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/ama. Wapres Ma'ruf Amin mengatakan tingkat produktivitas Indonesia jauh di bawah Malaysia. Di ASEAN, Indonesia berada di urutan kelima dari 10 negara.(ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Republik Indonesia Ma'aruf Amin mengatakan bahwa tingkat produktivitas pekerja Indonesia masih jauh di bawah Malaysia. Hal itu berdasarkan data yang didapatkannya melalui Asian Productivity Organization (APO).

"Kita masih terpaut jauh dengan Malaysia, dengan produktivitas per pekerja sebesar US$60 ribu atau lebih dari dua kali lipat Indonesia," ujar Ma'ruf dalam sambutan virtual Dies Natalis UNJ, Sabtu (16/5).

Ma'aruf memaparkan pekerja Indonesia untuk saat ini baru mampu menghasilkan sebesar US$25 ribu.


"Produktivitas per pekerja Indonesia berkisar US$26 ribu," ujarnya menambahkan.

Data yang dihimpun APO mencatat Indonesia berada di urutan kelima dari sepuluh negara di ASEAN dalam hal produktivitas pekerja.

Infografis Pro Kontra Program Kartu PrakerjaProkontra program kartu prakerja. (CNN Indonesia/Timothy Loen)

Ma'ruf menilai produktivitas ialah salah satu kriteria Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang ke depannya bisa membantu mengembangkan bangsa dan negara.

"Salah satu kriteria SDM unggul adalah tingkat produktivitas. Sayangnya ketika kita bicara produktivitas khususnya tenaga kerja kita bukan yg terbaik di Asean," tutur dia.

Selanjutnya ia pun yakin bahwa SDM yang unggul dan bisa menghasilkan produktivitas tinggi itu menjadi kunci untuk memenangkan persaingan global.

"SDM yang unggul adalah kunci untuk memenangkan persaingan global," pungkasnya.

Diketahui, tak hanya produktivitas namun juga soal pendidikan pun tertinggal dengan negara jiran itu.

Ma'aruf mengungkapkan bahwa berdasarkan data hasil survei yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2019 hanya 12, 27 juta orang yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi dari 126,57 juta penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas.

"Dari 126,57 juta penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja, berdasarkan data BPS, Agustus 2019 hanya sekitar 12,27 juta," ujarnya.

Selanjutnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengungkap upaya pemerataan dan perubahan pendidikan komunikasi jadi kunci utama yang harus diselesaikan.

Termasuk di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T), maupun di perkotaan. Namun kendala ketiadaan listrik masih dialami beberapa daerah.

Berdasarkan Global Talent Competitiveness Index (GTCI), Singapura memiliki nilai tertinggi di ASEAN yakni dengan skor 77,27.

Posisi kedua ditempati Malaysia dengan poin 58,62. Indonesia sendiri ada di posisi keenam dengan skor 38,61.

Indeks tersebut merupakan peringkat daya saing negara berdasarkan kemampuan SDM. Salah satu indikator indeks yakni pendidikan, infrastruktur, stabilitas politik hingga pendapatan per kapita.

[Gambas:Video CNN]

(ndn/evn)