Co-Leader of Consumer Packaged Goods and Retail Practices McKinsey in Southeast Asia Simon Wintels mengatakan hal ini terjadi karena pendapatan cenderung tergerus. Sementara, pengeluaran kebutuhan sehari-hari meningkat, sehingga konsumen cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan harian.
"Sejumlah besar orang Indonesia menunjukkan bahwa mereka menyerah untuk membeli mobil dan motor, penurunan hingga 60 persen. Mereka juga menyerah untuk membeli jam tangan dan perhiasan," ungkapnya dalam paparan virtual hasil studi, Senin (18/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagian besar orang melakukan pengeluaran yang sangat sedikit untuk kategori-kategori ini," terang Wintels.
Konsumen Indonesia, sambung dia, juga mengurangi pengeluaran makan di luar sekitar 75 persen dan restoran 69 persen. Begitu pula dengan furnitur dan perlengkapan rumah turun 55 persen.
Lalu, meningkat pula untuk kebutuhan rumah tangga naik 37 persen, produk anak non-makanan 25 persen, dan perawatan diri, seperti skincare dan make up 24 persen. Tidak ketinggalan, kebutuhan hiburan di rumah juga naik 47 persen. Misalnya, layanan streaming film online Netflix dan internet.
McKinsey menyatakan konsumen Indonesia cenderung menghemat pengeluaran untuk barang-barang tersier karena ekspektasi keuangan menurun. Misalnya, ekspektasi pendapatan turun 47 persen dan tabungan turun 54 persen, padahal ekspektasi tingkat pengeluaran justru naik 30 persen.
"Orang Indonesia mengatakan bahwa mereka khawatir dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan dan (khawatir) tidak bisa menyediakan pendapatan yang cukup, padahal tingkat pengeluaran terus meningkat," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)