Corona, Konsumen RI Ngerem Beli Mobil, Motor dan Perhiasan

CNN Indonesia
Senin, 18 Mei 2020 19:43 WIB
Calon penumpang commuterline menjalani tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 5 Mei 2020. Tes PCR untuk mencegah penyebaran mata rantai covid-19. CNNIndonesia/Safir Makki McKinsey merilis studi bahwa konsumen Indonesia mengerem konsumsi tersier, seperti mobil dan motor di tengah pandemi virus corona. Ilustrasi. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- McKinsey, konsultan manajemen internasional, mengungkap hasil studi bahwa konsumen Indonesia mulai tidak bisa membeli kebutuhan tersier, seperti mobil, motor, perhiasan, hingga jam mewah. Pengeluaran ini semakin sulit dipenuhi di tengah pandemi virus corona atau covid-19.

Co-Leader of Consumer Packaged Goods and Retail Practices McKinsey in Southeast Asia Simon Wintels mengatakan hal ini terjadi karena pendapatan cenderung tergerus. Sementara, pengeluaran kebutuhan sehari-hari meningkat, sehingga konsumen cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan harian.

"Sejumlah besar orang Indonesia menunjukkan bahwa mereka menyerah untuk membeli mobil dan motor, penurunan hingga 60 persen. Mereka juga menyerah untuk membeli jam tangan dan perhiasan," ungkapnya dalam paparan virtual hasil studi, Senin (18/5).


Berdasarkan hasil survei McKinsey, pengeluaran konsumen di Indonesia untuk pembelian kendaraan, baik mobil dan motor turun 69 persen. Begitu pula pengeluaran untuk bahan bakar turun 54 persen, sewa mobil turun 72 persen, dan berpergian dengan mobil turun 80 persen.

Kemudian, pengeluaran untuk membeli perhiasan turun 72 persen, aksesoris seperti jam tangan mewah turun 77 persen, pakaian turun 67 persen, dan alas kaki turun 69 persen.

Tak hanya itu, pengeluaran wisata juga turun 85 persen, penerbangan internasional turun 80 persen, hotel dan penginapan turun 84 persen, dan penerbangan domestik turun 86 persen.

"Sebagian besar orang melakukan pengeluaran yang sangat sedikit untuk kategori-kategori ini," terang Wintels.

Konsumen Indonesia, sambung dia, juga mengurangi pengeluaran makan di luar sekitar 75 persen dan restoran 69 persen. Begitu pula dengan furnitur dan perlengkapan rumah turun 55 persen.

Sementara, pengeluaran yang meningkat adalah bahan pangan naik 50 persen, cemilan 31 persen, makanan melalui layanan pesan antar 19 persen, dan rokok 14 persen.

Lalu, meningkat pula untuk kebutuhan rumah tangga naik 37 persen, produk anak non-makanan 25 persen, dan perawatan diri, seperti skincare dan make up 24 persen. Tidak ketinggalan, kebutuhan hiburan di rumah juga naik 47 persen. Misalnya, layanan streaming film online Netflix dan internet.

McKinsey menyatakan konsumen Indonesia cenderung menghemat pengeluaran untuk barang-barang tersier karena ekspektasi keuangan menurun. Misalnya, ekspektasi pendapatan turun 47 persen dan tabungan turun 54 persen, padahal ekspektasi tingkat pengeluaran justru naik 30 persen.

"Orang Indonesia mengatakan bahwa mereka khawatir dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan dan (khawatir) tidak bisa menyediakan pendapatan yang cukup, padahal tingkat pengeluaran terus meningkat," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]

(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER