Lembaga Agama 14 Negara Minta Setop Investasi Energi Fosil

CNN Indonesia | Senin, 18/05/2020 20:51 WIB
Aktivitas bongkar muat batubara di Pelabuhan KCN Cilincing, Jakarta, Rabu, 28 November 2018. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono mengatakan Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP subsektor mineral dan batu bara (minerba) per 16 November 2018 mencapai Rp 41,77 triliun. Jumlah tersebut melebihi target yang ditetapkan yaitu sebesar Rp 32,1 triliun. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono Sebanyak 42 lembaga keagamaan dari 14 negara meminta pemerintah setop investasi dan penggunaan energi fosil, khususnya batu bara. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 42 lembaga keagamaan dari 14 negara di dunia meminta pemerintah menghentikan investasi dan penggunaan energi fosil, khususnya sektor pertambangan batu bara. Investasi diminta untuk lebih fokus ke sektor industri yang ramah lingkungan dan dilakukan di era pemulihan ekonomi usai pandemi virus corona atau covid-19.

Direktur Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) untuk Keuskupan Agung Semarang Romo FX Endra Wijayanta mengatakan 42 lembaga keagamaan ini berasal dari Argentina, Australia, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Ekuador, Indonesia, Irlandia, Italia, Kenya, Myanmar, Spanyol, Inggris dan Amerika Serikat.

"Masa pandemi covid-19 adalah waktu yang tepat untuk tidak hanya merenung, tetapi untuk bertindak. Kita harus menghentikan spiral kematian ekologis. Kita harus menghidupkan kembali harapan ekologis kita, dalam pertobatan besar umat manusia, dengan menempuh jalan menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan," ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (18/5).


Ia mengatakan para lembaga keagamaan ingin agar pemerintah di seluruh dunia lebih berpikir jangka panjang dalam penggunaan energi ke depan. Sebab, penggunaan energi rendah karbon baik untuk kelangsungan hidup masyarakat dan lingkungan.

Di sisi lain, permintaan ini merupakan aksi lanjutan dari komunitas para lembaga keagamaan yang sebelumnya telah melepas kontribusi investasi dari perusahaan energi fosil. Setidaknya, para lembaga keagamaan sudah menghasilkan 350 dari 1.400 komitmen global.

"Pada hari ini aksi seruan oleh lembaga-lembaga agama akan memberikan tekanan lebih kepada pemerintah di seluruh dunia untuk memberlakukan kebijakan pemulihan yang komprehensif dan kuat," ucapnya.

Ia turut memaparkan setidaknya ada 21 lembaga keagamaan Katolik yang mengelola investasi senilai US$40 miliar atau setara Rp600 triliun (asumsi kurs Rp15 ribu per dolar AS) di perusahaan yang bergerak di sektor yang sesuai Sumpah Investasi untuk Dampak Katolik. Mereka adalah perusahaan yang ramah lingkungan.

Senada, Pendiri dan Ketua Eksekutif Carbon Tracker Mark Campanale menyatakan langkah pemulihan ekonomi dari masa pandemi corona di berbagai negara merupakan momentum yang tepat untuk membenahi iklim investasi. Ia menekankan investasi di berbagai bidang saat ini harus bisa berdampak positif dan dirasakan masyarakat di kehidupan mendatang.

"Energi fosil tidak bisa menjamin kesehatan umat manusia di masa depan. Komitmen lembaga keagamaan untuk menciptakan dunia yang lebih baik adalah suatu contoh kepemimpinan yang harus diikuti oleh pemerintah," katanya.

Sementara Ketua Lembaga Pemuliaan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hayu Prabowo mengungkapkan investasi yang ramah lingkungan merupakan bagian dari ajaran agama. Sebab, turut merawat alam.

MUI pun pernah mengeluarkan tujuh fatwa berkenaan dengan pelestarian lingkungan hidup sejak tahun 2010. Khususnya berkaitan dengan energi fosil, MUI mengeluarkan fatwa mengenai pertambangan yang ramah lingkungan dan pertambangan wajib mentaati kaidah-kaidah yang dapat memastikan tidak ada kerusakan alam yang permanen.

Selain itu, MUI dalam beberapa tahun terakhir memotori gerakan EcoMasjid yang menjadikan masjid sebagai tempat pendidikan lingkungan dengan menerapkan energi terbarukan dan pengelolaan sampah dan hemat air dan listrik di lingkungan masjid.

"Pada ajaran seluruh agama, alam menempati tempat yang istimewa. Oleh karenanya agama merupakan sarana yang tepat untuk menyampaikan pesan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian alam," katanya.

[Gambas:Video CNN]


(uli/age)