Perang Dagang di Tengah Corona Ganggu Rantai Pasok Barang

CNN Indonesia | Selasa, 19/05/2020 14:20 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/6/2019).  Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2019 mengalami surplus sebesar 210 juta dolar AS dengan nilai ekspor mencapai 14,74 miliar dolar AS, sementara nilai impor mencapai 14,53 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc. Peneliti CIPS mengusulkan negara-negara di dunia meninggalkan proteksionisme dengan menghapus tarif dan hambatan dagang nontarif lainnya. Ilustrasi perdagangan internasional. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta meminta negara-negara di dunia menghindari kebijakan proteksionisme di tengah pandemi virus corona. Kebijakan yang menabuhkan perang dagang tersebut dinilai hanya akan mengganggu kelancaran rantai pasok.

"Dan menghambat pasokan di pasar yang akan berujung pada kelangkaan," ujarnya, mengutip Antara, Selasa (19/5).

Ia menyebut pandemi corona telah menelan banyak korban jiwa, menciptakan disrupsi perekonomian dunia, mengancam ketahanan pangan, menurunkan arus investasi, dan melemahkan daya beli masyarakat.


"Upaya meninggalkan proteksionisme dan membuka perdagangan perlu ditingkatkan untuk memitigasi dampak pandemi ini," imbuh dia.

Negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, menurut dia, perlu berkomitmen penuh untuk meninggalkan proteksionisme dan memastikan perdagangan antar negara dapat tetap berjalan.

Hal itu dianggap penting untuk memastikan ketersediaan barang-barang penting, seperti komoditas pangan, obat-obatan dan alat medis. "Kebijakan proteksionisme mengganggu kelancaran rantai pasok," katanya.

Felippa melanjutkan untuk meninggalkan proteksionisme adalah dengan mengeliminasi hambatan dagang, baik tarif maupun nontarif.

"Pengenaan tarif akan berdampak pada harga dan ketersediaan. Pengenaan tarif sebaiknya dihapus secara permanen, terutama pada komoditas yang pasokannya memengaruhi hidup orang banyak," tuturnya menyarankan.

Selain itu, negara-negara di dunia tidak perlu memberlakukan larangan ekspor untuk peralatan medis dan obat-obatan. Namun, menyederhanakan birokrasi dan meningkatkan kerja sama terkait ketersediaan obat-obatan.

"Krisis hanya akan diselesaikan dan ekonomi hanya akan pulih, jika negara diizinkan untuk berdagang dan berkolaborasi secara bebas satu sama lain," tandasnya.

Kemarin, China mengobarkan 'api' perang dagang dengan Australia, setelah bersitegang selama dua tahun dengan Amerika Serikat (AS). China mematok tarif impor 8,05 persen untuk gandum barley Australia akibat penyelidikan ekspor biji-bijian dari Australia. Hasil penyelidikan mengungkap subsidi dan dumping yang dilakukan Australia.

Peningkatan ketegangan dagang antara Australia dengan China terjadi sejak pekan lalu. Ketegangan dipicu oleh dorongan Pemerintah Australia untuk menyelidiki asal usul virus corona. Dorongan tersebut membuat China naik pitam dan memutuskan untuk membalas dengan menangguhkan impor empat pemasok daging sapi utama Australia.

[Gambas:Video CNN]

(bir/agt)