"Dan menghambat pasokan di pasar yang akan berujung pada kelangkaan," ujarnya, mengutip Antara, Selasa (19/5).
Ia menyebut pandemi corona telah menelan banyak korban jiwa, menciptakan disrupsi perekonomian dunia, mengancam ketahanan pangan, menurunkan arus investasi, dan melemahkan daya beli masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, menurut dia, perlu berkomitmen penuh untuk meninggalkan proteksionisme dan memastikan perdagangan antar negara dapat tetap berjalan.
Felippa melanjutkan untuk meninggalkan proteksionisme adalah dengan mengeliminasi hambatan dagang, baik tarif maupun nontarif.
"Pengenaan tarif akan berdampak pada harga dan ketersediaan. Pengenaan tarif sebaiknya dihapus secara permanen, terutama pada komoditas yang pasokannya memengaruhi hidup orang banyak," tuturnya menyarankan.
Selain itu, negara-negara di dunia tidak perlu memberlakukan larangan ekspor untuk peralatan medis dan obat-obatan. Namun, menyederhanakan birokrasi dan meningkatkan kerja sama terkait ketersediaan obat-obatan.
Kemarin, China mengobarkan 'api' perang dagang dengan Australia, setelah bersitegang selama dua tahun dengan Amerika Serikat (AS). China mematok tarif impor 8,05 persen untuk gandum barley Australia akibat penyelidikan ekspor biji-bijian dari Australia. Hasil penyelidikan mengungkap subsidi dan dumping yang dilakukan Australia.
Peningkatan ketegangan dagang antara Australia dengan China terjadi sejak pekan lalu. Ketegangan dipicu oleh dorongan Pemerintah Australia untuk menyelidiki asal usul virus corona. Dorongan tersebut membuat China naik pitam dan memutuskan untuk membalas dengan menangguhkan impor empat pemasok daging sapi utama Australia.
[Gambas:Video CNN]
(bir/agt)