5 Jurus Kemendag Amankan Stok dan Harga Gula Nasional

Kementerian Perdagangan, CNN Indonesia | Minggu, 24/05/2020 16:15 WIB
Kemendag (Foto: Dok. Kemendag)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan disebut telah memprediksi menipisnya stok gula pada awal tahun ini. Untuk itu, Kemendag membuka kran impor kepada empat perusahaan sebesar 160.440 ton pada November 2019 lalu.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana mengatakan, sebagai lanjutan antisipasi, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) melalui anak perusahaan PT Gendhis Multi Manis (GMM) mendapat PI pada 29 November 2019 dan 13 April 2020, dengan total impor gula sebesar 64.750 ton.

"Perum Bulog sendiri telah diberi tugas melakukan importasi GKP sebesar 50 ribu ton pada 7 April 2020. Bulog juga mendapatkan persetujuan pengalihan gula dari PT Sumber Mutiara Indah Perdana (SMIP) sebesar 20 ribu ton pada 13 Maret 2020. Dengan demikian secara keseluruhan Perum Bulog mendapat sebesar 134.750 ton dan telah direalisasikan sebesar 75.350 ton," kata Wisnu di Jakarta, Minggu (24/5).
Ada tiga faktor penyebab kurangnya pasokan gula kristal putih saat ini. Satu, produksi pada 2019 yang tak sesuai perkiraan. Hasil produksi yang seharusnya cukup sampai Maret 2020 ternyata sudah habis pada Februari 2020. Kedua, pergeseran musim giling tebu dari bulan April ke akhir Juni, disertai perubahan iklim.


Ketiga, realisasi impor yang tak maksimal sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang juga menyerang negara asal impor seperti India, Thailand, dan Australia.

"Negara-negara tersebut menerapkan lockdown dalam menekan penyebaran corona sehingga mengakibatkan terhambatnya logistik dan transportasi kapal pengangkut serta adanya pengalihan negara asal impor ke negara lain yang dilakukan oleh importir seperti ke Brazil dan beberapa negara di Afrika dengan konsekuensi waktu tempuh untuk importasi yang lebih lama,"jelas Dirjen Daglu.

Hal-hal itu menyebabkan pergeseran pemasukan impor gula kristal mentah sebagai bahan baku gula kristal putih. Dari perkiraan bulan Maret dan April menjadi April sampai Juni 2020 secara bertahap.
Merespons harga gula yang melonjak, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto membuat lima ketetapan yang dilakukan oleh Kemendag. Di antaranya, mengalihkan gula kristal mentah untuk gula rafinasi menjadi gula konsumsi sebesar 250 ribu ton. Saat ini telah dilakukan distribusi sebesar 175.335 ton langsung ke ritel modern, dan sisanya disalurkan langsung ke distributor dan pedagang,

Dua, meminta produsen dan distributor bersama memutus mara rantai distribusi sehingga gula langsung sampai ke pedagang pasar dan ritel modern. Produsen diharuskan menurunkan harga jual maksimal sebesar Rp11.200/kg, agar mencapai HET. Tiga, meminta produsen menyalurkan gula langsung ke pedagang di pasar rakyat.

Selain itu, juga menjual gula curah tanpa kemasan di ritel modern, serta monitoring harga lapangan oleh Kemendag dan Satgas Pangan. Langkah keempat, melakukan operasi pasar gula bekerja sama dengan produsen dan distributor untuk menyalurkan gula secara langsung dengan HET Rp.12.500/kg.

Operasi pasar tersebut, kata Wisnu, akan berjalan serentak di 34 provinsi mulai minggu ketiga bulan Mei 2020. dan dilakukan setiap hari.

Langkah terakhir Kemendag adalah bersama Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga dan Satgas Pangan terus menindak pelaku yang melakukan penyimpangan distribusi gula.

"Kementerian Perdagangan akan terus melakukan pemantauan dan pengawasan bekerjasama dengan pemerintah daerah dan asosiasi terhadap waktu pemasukan gula kristal mentah, proses produksi dan distribusi oleh pabrik gula yang mendapatkan penugasan pengalihan dari produsen gula rafinasi menjadi gula konsumsi dan persetujuan impor sehingga dapat mejamin ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga gula nasional," ujar Wisnu. (rea)