Nissan Bakal PHK 20 Ribu Karyawan karena Corona

CNN Indonesia | Selasa, 26/05/2020 10:38 WIB
Interior kendaraan MPV All New Nissan Serena di Jakarta, Selasa, 19 Februari 2019. Peluncuran kedua MPV ini menegaskan komitmen Nissan kepada pelanggan Indonesia dengan mengusung Nissan Intelligent Mobility. CNNIndonesia/Safir Makki Nissan dikabarkan akan melakukan PHK terhadap 20 ribu karyawan. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Produsen mobil Nissan dikabarkan akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 20 ribu karyawan akibat pandemi Covid-19. Saat ini, Nissan sedang bersiap mengurangi kapasitas produksi global sebesar 20 persen dan menutup pabrik di Barcelona.

Informasi tersebut disampai oleh Nikkei Asian Review, sebagaimana dilansir dari CNN, Selasa (26/5). Pabrikan mobil asal Jepang itu, baru saja merilis laporan keuangan tahunan 2019.

Dalam laporan tersebut laba Nissan tercatat turun dalam empat kuartal berturut-turut sepanjang 2019. Pada kuartal IV 2019, laba operasional anjlok 83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 54,3 miliar yen (setara US$504 juta).


Tak hanya Nissan, produsen mobil asal Prancis, Renault juga mengalami tekanan serupa akibat Covid-19. Bahkan, Financial Times seperti dikutip CNN menyebut, Renault bisa berhenti membuat dua model populer di Spanyol dan memindahkan produksinya ke pabrik besar Nissan di Inggris.

Sebelum pandemi, Renault memang telah berada dalam masalah. Kinerja keuangan di 2019 merupakan yang terburuk dalam satu dekade.

Laba bersih turun hingga 99 persen menjadi hanya €19 juta (setara US$21 juta). Tak hanya itu, harga sahamnya juga anjlok 69 persen sepanjang tahun lalu.

Pada April lalu, akibat pandemi penjualan global turun hampir 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, Renault menghentikan produksi di 12 fasilitas di Perancis pada pertengahan Maret lalu.

Saat ini, perusahaan tengah dalam negosiasi persyaratan pinjaman sebesar €5 miliar (setara US$5,4 miliar) dari pemerintah Prancis. Namun, hal tersebut belum mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan Prancis Le Maire.

Pemerintah sendiri, menggenggam 15 persen saham Renault. "Kami menandatangani ketika kami tahu apa strategi Renault," kata Le Maire.

Seperti diketahui, industri mobil sudah berada di bawah tekanan sejak penurunan penjualan dan keuntungan pada 2019. Jadi, jatuhnya permintaan mobil secara global tahun ini dapat mendorong perusahaan asal Prancis dan Jepang itu kembali bersinergi demi memangkas biaya dan berbagi beban membangun mobil listrik.

Nissan dan Renault telah menjadi mitra sejak 1999. Namun, mereka tidak pernah menyelesaikan merger.

Bersama dengan junior mereka Mitsubishi Motors, aliansi ini mempekerjakan sekitar 450 ribu orang di seluruh dunia. Namun, kerja sama keduanya mengalami kekacauan pada dekade ketiga.

[Gambas:Video CNN]
Penangkapan Carlos Ghosn, mantan petinggi aliansi tersebut pada 2018, memicu serangkaian perubahan kepemimpinan pada dua perusahaan. Saat ini, kemunculan Covid-19 memaksa dua perusahaan untuk mencairkan ketegangan mereka.

Menurut Nikkei yang dikutip CNN, Renault dan Nissan tengah mencari fasilitas produksi bersama di Eropa, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara. Nissan, misalnya, dapat mulai memproduksi kendaraan Renault di pabriknya di Brasil.

Keduanya, juga dilaporkan tengah berupaya meningkatkan jumlah suku cadang yang dapat digunakan bersama untuk mobil buatan mereka. Keduanya juga dikabarkan mempercepat rencana pengembangan platform kendaraan bersama.

Namun, Juru bicara untuk Nissan dan Renault menolak berkomentar terkait kabar tersebut.

(ulf/agt)