Klarifikasi, Mandiri Realokasi Kantor Cabang Saat New Normal

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 30/05/2020 18:18 WIB
Nasabah menyetor uang di cabang Bank Mandiri Gambir pada saat libur lebaran, Jakarta (20/6). Per tanggal 21 Juni 2018, seluruh kantor cabang Bank Mandiri sudah beroperasi secara menyeluruh. (CNN Indonesia/ Hesti Rika) Ilustrasi Bank Mandiri pada sebelum wabah corona melanda. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengklarifikasi rencana penutupan kantor cabang saat memulai kembali aktivitas di tengah pandemi virus corona (new normal). Perusahaan menyatakan bukan akan menutup cabang, tapi merelokasi atau memindahkan sebagian cabang ke tempat lain.

Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar menjelaskan relokasi/pemindahan dilakukan karena sejumlah kantor cabang saling berdekatan, sehingga operasional lebih efisien dengan realokasi.

"Terkait info soal penutupan cabang, hal itu lebih diutamakan pada kantor cabang yang lokasinya berdekatan dengan memindahkan atau merelokasi salah satu kantor ke tempat lain," ungkap Royke dalam pernyataan resmi, dikutip Sabtu (30/5).


Mandiri menyatakan realokasi tidak akan mengurangi jumlah pegawai, namun memungkinkan perpindahan divisi. Selain itu Mandiri juga menyatakan siap untuk meningkatkan keahlian karyawan agar bisa beradaptasi dengan perubahan teknologi perbankan.

Mandiri juga menargetkan 75 persen kantor cabang yang sempat ditutup di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beroperasi kembali di akhir Juni, dan 100 persen pada akhir Juli.

Sebelumnya pada diskusi online (29/5), Royke menyoroti perubahan kebiasaan konsumen dalam berbelanja atau mengajukan kredit yang bergerak ke arah digital. Royke mengatakan di masa depan, jumlah kantor cabang yang melayani bisa hanya 20 persen.

Namun Royke menegaskan dampak transformasi digital terhadap pengurangan jumlah karyawan tidak akan besar sebab digitalisasi akan membuat proses transaksi lebih cepat dan membuat bisnis bisa tumbuh lebih tinggi.

"Efeknya pada ekonomi kalau bank bisa cepat penyaluran uang ke banyak tempat dan banyak nasabah baru tentunya itu akan menyerap tenaga kerja pada akhirnya dan memunculkan bisnis-bisnis baru. Dan saya bicara ke teman-teman untuk switch dengan bisnis ke depan," ujar Royke .

New Normal

Mandiri juga menyatakan perusahaan juga saat ini menyiapkan protokol new normal yang akan dilakukan di setiap kantor Bank Mandiri, seperti penggunaan masker, penyediaan hand sanitizer dan thermogun untuk pengecekan suhu karyawan dan pengunjung, serta penerapan physical distancing.

"Saat ini jam layanan kantor cabang Bank Mandiri dimulai dari pukul 09.00-15.00 WIB. Untuk keselamatan, kami telah menempatkan sekat berupa acrylyc pembatas antara frontliner dan nasabah," kata Corporate Secretary Bank Mandiri Rully Setiawan dalam keterangan resmi.

Kendati begitu, Rully menyarankan nasabah melakukan transaksi secara elektronik. Hal ini juga berlaku bagi nasabah yang ingin membuka rekening.

"Masyarakat saat ini juga bisa membuka rekening tanpa harus ke kantor cabang Bank Mandiri, tetapi cukup melakukan scan QR atau mengakses join.bankmandiri.co.id pada telepon pintar masing-masing," jelas Rully.

Restrukturisasi Kredit

Sementara itu, Rully menuturkan Bank Mandiri telah melakukan restrukturisasi kredit kepada 300 ribu debitur yang terdampak penyebaran virus corona. Nilai restrukturisasi kredit itu sebesar Rp58 triliun.

"Dari jumlah tersebut sebagian besar merupakan debitur UMKM di mana sebagian besar menggunakan skema penundaan pembayaran cicilan pokok dan bunga," katanya.

Diketahui, pemerintah mendorong perbankan memberikan restrukturisasi kredit kepada debitur yang terdampak penyebaran virus corona. Hal ini demi mengurangi beban masyarakat di tengah pandemi virus corona.

Kebijakan restrukturisasi itu tercantum dalam Peraturan OJK No. 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical.

Sebelumnya, Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sekaligus Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan total restrukturisasi kredit hingga 30 April 2020 sebesar Rp223,15 triliun. Restrukturisasi itu diberikan kepada 1,71 juta nasabah yang terdampak penyebaran virus corona.

Sunarso menyebut fasilitas itu diberikan kepada nasabah kredit usaha rakyat (KUR) sebanyak 640 ribu dengan nilai restrukturisasi Rp24,64 triliun, nasabah kredit mikro sebanyak 850 ribu dengan nilai Rp45,1 triliun, dan kredit usaha kecil menengah sebanyak 69 ribu dengan nilai restrukturisasi Rp67,31 triliun.

Kemudian, restrukturisasi juga diberikan kepada nasabah non UMKM sebanyak 158 ribu dengan nilai restrukturisasi sebesar Rp86 triliun. Kredit non UMKM ini terdiri dari konsumer dan wholesale.

(aud/vws)

[Gambas:Video CNN]