Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pembelian SBN ini umumnya berasal dari pasar sekunder ketika investor asing melepas kepemilikan SBN mereka. Umumnya, investor asing melepas kepemilikan surat utang mereka karena panik dan pasar keuangan dianggap kurang kondusif.
"Ini sudah termasuk tahun ini yang kami beli di pasar sekunder waktu investor asing pada keluar, mereka kan melepas kepemilikannya dan tidak ada yang beli. Kami ambil kalau tidak yield meroket," ungkap Perry dalam konferensi pers virtual, Jumat (5/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kurang lebih ada Rp26,1 triliun (pembelian) di pasar primer. Ini untuk apa? Untuk sedot semprot, jadi gini kalau bank bisa kelola likuiditas, BI akan gunakan SBN yang dimiliki untuk reverse repo, kami jual jadi ada aliran likuiditas yang masuk ke BI. Ini sebagian besar kami gunakan untuk pengelolaan likuiditas kami," jelasnya.
Secara keseluruhan, pemerintah membutuhkan pembiayaan untuk penanganan dampak pandemi corona mencapai Rp1.039,2 triliun. Kebutuhan dana ini meningkat dari sebelumnya hanya sekitar Rp852,9 triliun.
Hal ini membuat defisit anggaran akan meningkat dari sebelumnya diperkirakan mencapai 5,08 persen dari PDB menjadi 6,34 persen dari PDB pada tahun ini. Namun, APBN Perubahan belum disampaikan pemerintah ke DPR.
[Gambas:Video CNN]
(uli/agt)