Kendati begitu, pemerintah merancang pembayaran utang tersebut pada saat ini ketika pandemi corona. Sebab, bila tidak dibayarkan tekanan keuangan bagi para perusahaan negara akan semakin besar dan berpotensi merugikan perusahaan bahkan pemerintah.
"Jadi tidak ada hubungannya dengan covid-19, itu adalah utang negara kepada BUMN yang sebelumnya tidak dibayar tepat waktu, bahkan bertahun-tahun," ujar Faisal saat diskusi virtual, Rabu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini membuat PLN mengalami kesulitan keuangan selama beberapa tahun terakhir karena tarif listrik yang dibayarkan sejatinya sudah tidak sesuai. Padahal seharusnya tarif listrik ditentukan sejalan dengan pergerakan inflasi, harga minyak, dan kurs rupiah.
"Akibatnya PLN pada Desember 2019, mereka tidak bisa membayar utang," katanya.
Kedua, Pertamina. Pemerintah hanya memasukkan pos subsidi energi untuk BBM jenis minyak tanah dan solar. Padahal, ada BBM jenis tertentu, yaitu Premium, di mana bahan bakar ini tidak disubsidi tapi harganya diatur pemerintah dan merugi.
Sebagai gantinya, kata Faisal, pemerintah memberikan dana kompensasi. Namun, karena tidak berstatus subsidi jadi pembayaran anggarannya bisa ditunda dan ini yang kemudian seolah disulap menjadi dana PEN.
Selain PLN dan Pertamina yang kerap menjadi diutangi, Faisal mengatakan kini pemerintah sebenarnya juga menambah beban beberapa BUMN yang diminta membangun fasilitas rumah sakit penanganan virus corona.
"Kinerja BUMN kalau dilihat dari pembukuannya masih oke, tapi masalahnya di cash flow, karena di masa direksi PLN yang lalu itu, utang pemerintah sudah dianggap sebagai penerimaan, padahal cash-nya belum ada, sehingga membuat kesulitan bayar utang (BUMN)," jelasnya.
"Katanya pembangunan jalan tol ini menyerap banyak tenaga kerja, masya Allah ini sudah keterlaluan, jalan tol sekarang sudah tidak ada tenaga kerjanya, semua adalah alat berat, jadi dipaksakan sekali. Kalau menyerap tenaga kerja itu bangun jalan desa, ini tidak padat karya sama sekali," jelasnya.
"Menurut saya ini bisa ditunda, jalan tol tidak harus disambung tahun ini," sambungnya.
Penugasan kepada Hutama Karya pun seolah-olah dirancang tanpa APBN. Padahal, pemerintah menyuntikkan dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp6,4 triliun.
"Untuk keluarkan bonds, harus keluarkan aset, di-rating, asetnya diambil dari BUMN lain, jadi makin tidak tertib. Memang kalau tidak ada krisis tidak kelihatan, tapi dengan ada krisis, satu per satu BUMN mengeluh. Krisis ini menunjukkan betapa ada yang salah dalam pengelolaan ekonomi kita," tuturnya.
Lebih lanjut, ia melihat pemerintah harus mengkaji kembali program PEN dan alokasi serta potensi ketepatsasarannya. Bila tidak, stimulus ini tidak akan mampu mendongrak perekonomian. Ia pun melihat pemulihan ekonomi nasional baru akan selesai dalam lima tahun ke depan.
Faisal turut mengkritik program biodiesel pemerintah yang dinilainya akan menjadi permasalahan di kemudian hari. Sebab, program biodiesel membuat pemerintah harus menggunakan dana sawit untuk membayar subsidi atas selisih harga FAME dan minyak kepada para pengusaha sawit.
Masalahnya, program yang diklaim pemerintah bisa menjadi solusi untuk penyerapan hasil perkebunan rakyat dan energi baru terbarukan ini justru dikhawatirkan justru hanya memperkaya pengusaha saja.
"Sekarang ada lagi subsidi biofuel, itu jumlah Rp2,8 triliun kalau tidak salah untuk operasi Rp1 triliun, tapi untuk Martua Sitorus dan kawan-kawan Rp2,8 triliun plus Rp700 miliar dari tambahan dana sawit yang naik dari US$50 menjadi US$55 per ton," katanya.
Program ini, sambungnya, hanya akan menghabiskan dana sawit yang diambil dari pungutan hasil ekspor para pengusaha kepada negara. Dengan begitu, dana hasil pungutan kembali lagi ke kantong para pengusaha.
Di sisi lain, pemerintah memberikan alokasi dana PEN kepada program biodiesel yang dipastikan juga hanya menguntungkan pengusaha sawit. Alokasinya sekitar Rp2,78 triliun.
"Ini dinikmati segelintir orang saja dan mereka masih terus minta. Masalah Covid ini seperti keranjang sampah, semua dimasukkan di dana Covid untuk menghilangkan jejak tidak disiplin fiskal," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]
(uli/age)