Susi Minta Pemerintah Perbanyak Bantuan Jelang New Normal
CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2020 16:58 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri maskapai Susi Air dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menilai pemerintah perlu memperbanyak bantuan dan arahan kepada pelaku usaha dalam menyongsong tatanan normal baru (new normal).
Susi juga menyayangkan minimnya perhatian pemerintah kepada pelaku usaha terutama di sektor penerbangan yang terpukul berat akibat pandemi virus corona. Ia mengaku belum merasakan insentif pemerintah, katanya, ia masih harus membayar beban usaha secara penuh meski tak menerima pendapatan.
"Sulitnya kami seperti tidak ada guideline (arahan), semua seperti biasa. Semua sektor pembayaran, pos pembayaran pemerintah tidak ada satu pun yang tidak bayar," ucapnya lewat video conference pada Jumat (12/6).
Mengaku nihil pendapatan selama 2 bulan terakhir, Susi berharap pemerintah dapat memberikan keringanan beban reguler seperti biaya perpanjangan izin terbang dan surat keterangan security clearance (SKSC).
"Sulitnya kami seperti tidak ada guideline (arahan), semua seperti biasa. Semua sektor pembayaran, pos pembayaran pemerintah tidak ada satu pun yang tidak bayar," ucapnya lewat video conference pada Jumat (12/6).
Susi berharap minimal pemerintah dapat menggratiskan pembayaran beban reguler tersebut untuk sementara waktu. Sebab, dia meramal sektor penerbangan baru akan kembali beroperasi secara normal pada tahun depan.
Dalam usahanya bertahan, Susi Air terpaksa merumahkan dan memutus hubungan kerja (PHK) karyawannya. "(Kami) dalam bertahan menutup banyak cabang dan merumahkan banyak karyawan, defisit mau jual aset tapi kan tidak mudah juga jual aset saat seperti ini," ucapnya.
Di kesempatan sama, anggota Dewan Pengawas Facebook (Oversight Board) Endy Bayuni mengkhawatirkan minimnya arahan pemerintah kepada pengusaha swasta menuju era new normal.
"New normal harus ada strategi baru, ini yang belum terlihat, private sector (sektor swasta) menunggu arahan permerintah ke mana, belum ada gambaran persisnya mau ke mana," paparnya
Ia berharap pemerintah dapat mencontoh berbagai negara Eropa yang sigap dan menyiapkan strategi jelas menyongsong tatanan normal baru terutama dalam menggenjot industri dalam negeri.
(wel/sfr)
Susi juga menyayangkan minimnya perhatian pemerintah kepada pelaku usaha terutama di sektor penerbangan yang terpukul berat akibat pandemi virus corona. Ia mengaku belum merasakan insentif pemerintah, katanya, ia masih harus membayar beban usaha secara penuh meski tak menerima pendapatan.
"Sulitnya kami seperti tidak ada guideline (arahan), semua seperti biasa. Semua sektor pembayaran, pos pembayaran pemerintah tidak ada satu pun yang tidak bayar," ucapnya lewat video conference pada Jumat (12/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam usahanya bertahan, Susi Air terpaksa merumahkan dan memutus hubungan kerja (PHK) karyawannya. "(Kami) dalam bertahan menutup banyak cabang dan merumahkan banyak karyawan, defisit mau jual aset tapi kan tidak mudah juga jual aset saat seperti ini," ucapnya.
Di kesempatan sama, anggota Dewan Pengawas Facebook (Oversight Board) Endy Bayuni mengkhawatirkan minimnya arahan pemerintah kepada pengusaha swasta menuju era new normal.
"New normal harus ada strategi baru, ini yang belum terlihat, private sector (sektor swasta) menunggu arahan permerintah ke mana, belum ada gambaran persisnya mau ke mana," paparnya
Ia berharap pemerintah dapat mencontoh berbagai negara Eropa yang sigap dan menyiapkan strategi jelas menyongsong tatanan normal baru terutama dalam menggenjot industri dalam negeri.
(wel/sfr)