New Normal, Pemerintah Bidik Turis Berkantong Tebal

CNN Indonesia | Sabtu, 13/06/2020 07:23 WIB
Wisatawan mancanegara (wisman) menikmati panorama Pantai Kuta, Bali, Kamis (30/4). Menurut sejumlah pengusaha wisata, seruan untuk memboikot Bali sebagai tujuan wisata yang marak di media sosial setelah eksekusi mati terhadap duo Bali Nine tidak berpengaruh signifikan terhadap kunjungan wisman ke Pulau Bali. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/ss/pd/15 Pemerintah berharap kehadiran turis berkantong tebal dapat meningkatkan pariwisata yang berkualitas dan mendorong pembangunan berkelanjutan. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah berencana menggaet turis-turis berkantong tebal untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dari keterpurukan akibat pandemi virus corona.

Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Odo Manuhutu menjelaskan strategi ini dipilih pemerintah dengan sejumlah alasan.

Pertama, kebijakan pembatasan transporasi udara yang diperkirakan bakal berlangsung lama. Dengan keterisian penumpang yang lebih sedikit, otomatis tarif penerbangan akan terkerek dan ongkos untuk berwisata menjadi lebih mahal.


"Kalau kita lihat, secara global pergerakan pesawat mengalami penurunan 40 sampai 50 persen. Ada pembatasan kapasitas, kalau misalnya anda duduk di tengah, di bagian tengah itu juga harus dikosongkan. Akibatnya, price akan naikk," ucap Odo dalam video conference, Jumat (12/6).

Alasan kedua, adalah mendorong pariwisata yang lebih berkualitas yang salah satu indikatornya adalah besarnya pengeluaran turis saat menetap di salah satu destinasi wisata.

Turis berkantong tebal yang disebut pemerintah sebagai wisawatan kelas A dan B, kata Odo, kini makin sedikit dan hal tersebut kurang menguntungkan bagi pelaku usaha pariwisata.

Ia mencontohkan, misalnya, jumlah turis di Bali terus meningkat tapi jumlah rata-rata uang yang mereka habiskan selama berlibur justru berkurang.

"Kami mendorong quality tourism, salah satu riset menyatakan dari 2008 sampai 2019 wisatawan di Bali itu meningkat, stay meningkat. Tapi spend per day menurun 8 persen pengeluaranya," sambung Odo.

Karenanya, jika turis yang berlibur ke Indonesia adalah kelas A dan B, ia yakin roda perekonomian di daerah tempat wisata akan berputar lebih kencang.

"Justru yang kita inginkan kan dia tinggal 3-4 hari di sana, tapi spend-nya besar. Arahnya adalah quality tourism dan berkontribusi ke sustainable development," terang Odo.

Alasan terakhir adalah resiko terhadap lingkungan di tempat pariwisata. Ia menjelaskan, dengan hadirnya turis berkantong tebal, maka aktivitas manusia di lingkungan tempat pariwisata bisa lebih longgar. Turis berkualitas, lanjut Odo, juga diyakini lebih menjaga lingkungan di tempatnya berlibur.

"Quality tourism itu, ibarat 'you come to Indonesia, spend money here, buy local product'. Selain itu, turisnya bisa jaga lingkungan," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/sfr)