Sementara IPR bulan sebelumnya masih berada di level 219,9, meski juga bertumbuh minus namun penurunan masih relatif terjaga di angka minus 4,5 secara tahunan.
Kontraksi penjualan eceran, lanjut BI, disebabkan oleh kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah yang berdampak terhadap menurunnya permintaan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tren penurunan penjualan diprakirakan masih berlanjut hingga Mei 2020 dengan prakiraan kontraksi penjualan di kota Jakarta, Semarang, Bandung, Makassar, Manado, dan Denpasar yang semakin dalam," sebutnya seperti dikutip dari rilis resmi BI pada Selasa (16/6).
BI meramalkan penurunan IPR Mei 2020 akan lebih signifikan yaitu sebesar minus 22,9 persen secara tahunan. Tak jauh berbeda, sandang masih akan menjadi kelompok yang mengalami kontraksi terbesar yaitu minus 77,8 persen secara tahunan.
Tak hanya itu, BI juga memproyeksikan tekanan inflasi dalam 3 bulan mendatang (Juli 2020) akan meningkat. Ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang sebesar 162,6 atau lebih tinggi 160,7 pada Juni 2020.
Namun untuk harga 6 bulan mendatang (Oktober 2020), diperkirakan turun menyentuh level 146,4. (wel/sfr)