Setoran BUMN Tambang ke Negara Anjlok Separuh Imbas Corona

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 07:40 WIB
Alat berat dioperasikan di pertambangan Bukit Asam yang merupakan salah satu area tambang terbuka (open-pit mining) batu bara terbesar PT Bukit Asam Tbk. di Tanjung Enim, Lawang Kidul, Muara Enim, Sumatra Selatan, Sabtu (5/11). PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berencana menaikan produksi dari 25,75 juta ton menjadi 32,18 juta ton atau sebesar 25 persen pada 2017. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye/16 Holding BUMN tambang MIND ID memperkirakan penurunan kontribusi ke penerimaan negara sekitar Rp10 triliun hingga Rp11 triliun tahun ini. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kontribusi holding BUMN pertambangan atau Mind ID ke negara tahun ini diprediksi turun hingga 50 persen akibat pandemi virus corona (covid-19).

Dirut PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum)/Mind ID Orias Petrus Moedak mengatakan penurunan tersebut terjadi lantaran jatuhnya harga di tengah penurunan permintaan komoditas tambang.

Secara rinci, kontribusi Mind ID terhadap pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada 2018 mencapai Rp38 triliun lalu turun menjadi Rp22,9 triliun pada 2019 lalu.


Sementara pada kuartal I2020 lalu, total kontribusi yang sudah disetor ke negara baru mencapai Rp2,3 triliun.

"Akan terseret di level ini sampai dengan akhir tahun kurang lebih di level Rp10 triiliun- Rp11 triliun (kontribusi pajak dan PNBP), jadi sekitar 50 persen lebih penurunannya," ujar Orias dalam rapat bersama komisi VII DPR, Selasa (30/6).

Dampak covid-19 terhadap harga komoditas tambang sendiri terjadi hampir ke semua hasil produksi pertambangan kecuali emas dan bauksit yang relatif stagnan.

Alumunium, misalnya, mengalami penurunan harga hingga ke level US$1.500 per ton.

[Gambas:Video CNN]

"Saya ambil contoh saja terkait dengan aluminium ini memang kami ekspektasi harga sekitar 1.864 dolar per ton sampai dengan Mei ternyata realisasinya hanya di level 1500 dolar per ton seperti ini terjadi di semua komoditi," tuturnya.

Sementara pada komoditas batu bara, penurunan terjadi juga pada sisi permintaan. "Terjadi penurunan Diman signifikan terjadi di Batubara karena terkait dengan pemakaian untuk listrik di dalam negeri memang terjadi penurunan di PLN juga," imbuh Orias.

(hrf/sfr)