Menteri Edhy Klaim Prioritaskan Budi Daya Lobster dari Ekspor

antara, CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 12:21 WIB
Acara Pisah Sambut (serah terima jabatan) Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) dari Menteri KKP periode 2014-2019, Susi Pudjiastuti, kepada Menteri KKP periode 2019-2024, Edhy Prabowo di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengungkap prioritas utama pemerintah adalah mengembangkan budi daya lobster, bukan ekspor.(CNN Indonesia/ Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo mengungkap prioritas utama pemerintah adalah mengembangkan budi daya lobster, bukan ekspor. Pasalnya, menurutnya satu ekor lobster bisa menghasilkan sekitar satu juta telur.

Namun, jika lobster ditinggalkan di alam terbuka, maka perkiraan jumlah telur yang mencapai dewasa hanya sekitar 0,2 persen. Sementara, telur lobster yang dibudidayakan bisa mencapai dewasa hingga 30 persen.

Edhy menilai potensi itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan rakyat.


"Wilayah kita terlalu luas, saya sangat yakin akan menghasilkan nilai ekonomi," kata Edhy dikutip dari Antara, Senin (6/7).

Edhy mengemukakan berbagai kekurangan yang ada akan disempurnakan dan seluruh saran serta masukan bakal menjadi bahan acuan perbaikan ke depannya.

Terkait prioritas budi daya bukan ekspor, dia mengungkap karena ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa mengekspor benih lobster.

"Prioritas pertama itu budi daya, kami ajak siapa saja, mau koperasi, korporasi, perorangan silahkan, yang penting ada aturannya. Pertama harus punya kemampuan budi daya. Jangan tergiur hanya karena ekspor mudah, untungnya banyak," katanya.

Menurut dia, melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12/2020 KKP ingin mendorong kesejahteraan dan meningkatkan pengetahuan nelayan dalam berbudi daya lobster.

Ia mengemukakan bahwa eksportir harus membeli benih lobster dari nelayan dengan harga di atas Rp5.000 per ekor. Harga itu lebih tinggi dibanding ketika masih berlakunya aturan larangan pengambilan benih lobster.

KKP juga mewajibkan eksportir menggandeng nelayan dalam menjalankan usaha budi daya lobster.

Edhy ingin nelayan tidak hanya mendapat keuntungan ekonomis dari menjual benih lobster, tapi juga mendapat pengetahuan tentang berbudi daya.

"Selain kemampuan budi daya, berkomitmen ramah lingkungan tidak merusak, dan yang paling penting berkomitmen dengan nelayannya sendiri. Dia harus satu garis dan dia harus membina nelayannya sendiri," ujarnya.

Edhy memastikan proses seleksi untuk menjadi eksportir benih lobster terbuka untuk siapa saja baik perusahaan maupun koperasi berbadan hukum.

[Gambas:Video CNN]



(age/bir)