Wamenkeu Ungkap Dilema Selamatkan BUMN dari Corona

CNN Indonesia
Rabu, 08 Jul 2020 18:13 WIB
Kepala BKF Suahasil Nazara Pemerintah berhati-hati dalam membantu perusahaan pelat merah dari tekanan corona supaya bantuan tepat sasaran dan tidak mengakibatkan moral hazard. (CNN Indonesia/Yuli Yanna Fauzie).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkap dilema dalam menyelamatkan BUMN dari tekanan ekonomi akibat pandemi virus corona atau covid-19. Pasalnya, pemerintah harus menghitung dan melihat betul mana BUMN yang pantas maupun tidak pantas dibantu untuk menghadapi tekanan itu.

"Kalau situasi yang kami hadapi karena covid, maka yang dibantu seharusnya yang terdampak covid, namun kami akan selalu dihadapkan apa betul perusahaan itu dibantu karena covid? Ini yang selalu menjadi pertanyaan yang ditaruh di depan meja kami," ujar Suahasil dalam diskusi virtual bertajuk Mencari Solusi Recovery Ekonomi Pasca Pandemi Covid-19, Rabu (8/7).

Suahasil pun memberi contoh terkait perusahaan pelat merah mana yang sekiranya perlu dan tidak perlu diselamatkan oleh pemerintah. Ia menyinggung Garuda Indonesia, salah satu BUMN yang mendapat aliran dana dari pemerintah dalam rangka program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).


"Saya beri contoh jelasnya saja, Garuda. Garuda itu harus ditolong atau tidak? Kalau dia harus ditolong kenapa? Garuda itu terdampak covid atau tidak?" ucapnya.

Menurutnya, publik mungkin melihat bahwa kinerja Garuda Indonesia sebenarnya sudah memburuk sejak sebelum wabah corona ada di Indonesia. Bahkan, laporan keuangan maskapai nasional itu kerap merugi dalam beberapa tahun terakhir, meski sempat untung pada 2019.

Namun, sambungnya, publik tentu tahu pula bahwa kondisi pandemi corona membuat perusahaan tertekan. Khususnya, ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan larangan mudik diterapkan.

Garuda Indonesia seperti halnya maskapai lain, tidak bisa mengangkut penumpang dan hanya bisa mengandalkan bisnis kargo. Pada masa PSBB transisi menuju tatanan hidup baru (new normal) pun ada pembatasan kapasitas penumpang di pesawat.

[Gambas:Video CNN]

"Situasi menunjukkan sebelum covid pun Garuda sudah bermasalah, namun ketika covid datang, Garuda betul-betul tidak bisa terbang, kemudian dia terancam tidak punya cash flow, cash flow-nya negatif," katanya.

"Ini covid atau bukan? Ini akan selalu jadi perspektif yang diperdebatkan terus. Ini akan berbeda dengan perusahaan itu kalau dari dulunya sudah jelek," sambungnya.

Oleh karena itu, katanya, pemerintah berusaha untuk mengkaji matang perusahaan negara mana yang sekiranya perlu dan tidak perlu dibantu. Sebab, Suahasil tak memungkiri ada perusahaan pelat merah yang sejatinya tidak perlu diselamatkan karena tertekan dampak ekonomi corona.

"Nah, itu dia kami anggap free rider lah di dalam situasi krisis, tidak semua orang bisa diselamatkan atau tidak bisa semua perusahaan yang jelek pun ikut diselamatkan. Jadi memang kami harus memilih dalam situasi krisis karena ada beban atau biaya yang harus kami bayar," jelasnya.

Tak hanya itu, pemerintah pun harus berhati-hati agar tidak ada moral hazard dari bantuan yang diberikan.

"Nah, bagaimana menahan moral hazard dan batasi free rider, namun ada titik di mana ruang abu-abu akan selalu muncul ini free rider atau bukan di dalam ruang abu-abu tersebut," pungkasnya.

Seperti diketahui, pemerintah memberikan dana bantuan kepada sejumlah BUMN dalam rangka program PEN mencapai Rp152,15 triliun. Dana itu terbagi untuk Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp25,27 triliun untuk lima BUMN, yaitu PLN, PT Hutama Karya (Persero) Tbk, PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero), PT Permodalan Nasional Madani (Persero), dan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC).

Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan pembayaran kompensasi dengan jumlah mencapai Rp94,23 triliun kepada Pertamina, PLN, dan Perum Bulog. Lalu, memberi dana talangan Rp32,65 triliun kepada Garuda Indonesia, PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Perkebunan Nusantara (Persero), Perum Bulog, dan Perum Perumnas.

(agt/agt)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER