Aliran Duit dari Pinjol Melambat Akibat Covid-19

CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 18:51 WIB
Warga antre menukarkan uang di mobil kas keliling di Lapangan IRTI Monas, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2019. Bank Indonesia dan bank umum menyelenggarakan penukaran uang baru dengan maksimal penukaran Rp3,9 juta per orang perhari mulai 13 Mei hingga 1 Juni 2019 guna membantu masyarakat mendapatkan uang pecahan selama Ramadhan dan kebutuhan Lebaran. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono OJK menyebut penyaluran pinjaman online (pinjol) menurun tajam pada periode Maret-April atau era pandemi covid-19. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan penyaluran pinjaman perusahaan teknologi finansial (fintech) pembiayaan (lending) menurun akibat pandemi covid-19. Penurunan juga terjadi dari sisi debitur (borrower) bisnis pinjam meminjam berbasis online atau dikenal pinjaman online (pinjol).

Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Fintech OJK Munawar Kasan menuturkan tren penyaluran dan debitur turun paling tajam pada periode Maret dan April. Namun, penurunan mulai melandai pada Mei.

"Kami harap kalau data Juni ada penurunan lagi, tapi penurunannya lebih landai lagi," ujarnya dalam diskusi virtual, Senin (13/7).


Detailnya, total penyaluran pinjol sebesar Rp109,18 triliun pada Mei 2020. Angka itu hanya naik 3,12 persen dari April 2020 sebesar Rp106,06 triliun.

Sementara itu, pada periode yang sama tahun lalu, kenaikannya mencapai 10,87 persen dari Rp37,01 triliun di April 2019 menjadi Rp41,03 triliun di Mei 2019.

Kondisi serupa terjadi pada penyaluran pinjol April 2020 sebesar Rp106,06 triliun, hanya naik 3,57 persen dari posisi Maret 2020 sebesar Rp102,53 triliun. Sedangkan penyaluran April 2019 mampu naik 11,48 persen dari Maret 2019 sebesar Rp33,20 triliun menjadi Rp37,01 triliun di April 2019.

Tak jauh berbeda, data borrower juga berkurang dalam beberapa bulan terakhir. Pada Februari 2020, OJ,K merekam terdapat 1,83 juta borrower baru. Lalu turun tipis pada Maret menjadi 1,82 juta borrower. Kemudian, per April hanya 612 ribu borrower baru.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko mengakui sejumlah perusahaan pinjol memperketat syarat untuk pinjaman baru, serta lebih fokus pada penyaluran pinjaman eksisting.

Langkah ini merupakan bentuk mitigasi risiko dari perusahaan pinjol maupun keinginan pemberi pinjaman (lender).

"Harus kami akui dampak covid-19 ini, sebagian platform melakukan pengurangan disbursement pinjaman baru," ucapnya.

Namun, lanjutnya, tidak berarti perusahaan pinjol mengerem penyaluran pinjaman secara keseluruhan. Ia bilang mereka lebih selektif kepada pinjaman ke sektor yang masih produktif di tengah pandemi covid-19, seperti kesehatan. Untuk sektor tidak terdampak pandemi corona justru penyaluran pinjaman bertambah.

"Justru ada keinginan anggota kami untuk menaikkan batas pinjaman dari sekarang Rp2 miliar dinaikkan. Ini sudah disampaikan ke OJK," jelasnya.

Untuk diketahui, akumulasi penyaluran pinjol mencapai Rp109,18 triliun per Mei 2020. Jumlah itu naik 166,03 persen secara tahunan (yoy). Pinjaman tersebut disalurkan kepada 25,18 juta rekening borrower. Jumlah borrower ini naik 187,87 persen (yoy).

Sedangkan, kreditur fintech lending mencapai 654,20 ribu entitas, atau tumbuh 36,22 persen (yoy).

Lebih lanjut, Tingkat Keberhasilan Bayar (90) hari sebesar 94,90 persen. Namun, angka TKB cenderung turun dibandingkan posisi April sebesar 95,07 persen. Sementara itu,  total outstanding pinjol tembus Rp12,86 triliun, atau naik 54,63 persen.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)